Monday, February 16, 2009

The Adventure of The Empty House


Pada musim semi tahun 1894 semua masyarakat london tertarik bahkan dunia modern sekarang ini juga cemas terhadap peristiwa pemembunuhan Yang Mulia Ronald Adair. Ia meninggal dalam keadaan yang sangat ganjil dan sulit di pahami oleh akal sehat. Masyarakat telah mempelajari fakta-fakta kejahatan itu dari hasil investigasi polisi. Tapi pada saat itu kebanyakan fakta disembunyikan karena kasus yang amat kuat. Mereka tidak perlu mengungkapkan semua fakta. Hanya saja, sekarang setelah hampir sepuluh tahun, saya diijinkan untuk menyampaikan semua mata rantai yang hilang itu, untuk menyusun seluruh rangkai peristiwa yang luar biasa itu. Pada dasarnya, kejahatan itu sendiri sangat menarik, namun tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan hubungan yang tidak dapat dipahami oleh akal sehat.

Yang Mulia Ronald Adair adalah anak kedua dari pangeran Maynooth yang pada saat itu menjabat sebagai seorang gubernur disalah satu koloni Australia. Ibu Adair telah kembali dari Australia setelah melakukan operasi katarak. Ia, Ronald, dan anak gadisnya yang bernama Hilda itu tumbuh di lingkungan yang terbaik, dan sejauh ini dikenal tidak mempunyai musuh juga tidak memliki sifat buruk. Ia telah bertunangan dengan Nona Edith Woodley dari Carstairs, tetapi pertunangannya telah dibatalkan dengan kesepakatan bersama beberapa bulan sebelumnya. Tidak ada tanda-tanda kalau peristiwa itu meninggalkan perasaan yang mendalam. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 30 Maret 1894 antara pukul 10-10.30 malam.

Ronald Adair gemar bermain kartu. Ia selalu bermain kartu tetapi tidak pernah mengikuti jenis taruhan yang akan menghancurkan hidupnya. Ia adalah anggota klub-klub pemain kartu seperti Baldwin, Cavendish, dan Bagatelle. Sore hari saat peristiwa pembunuhan itu terjadi, ia kembali dari klub tepat pukul 10. Ibu dan saudara perempuannya sedang pergi keluar dengan seorang famili. Pelayannya memberi kesaksian bahwa ia mendengar Ronald memasuki ruang depan yang berada di lantai atas yang biasa digunakan sebagai ruang duduk. Lalu, pelayan itu menyalakan perapian. Karena berasap, kemudian ia membuka jendela. Tidak ada suara terdengar dari ruang depan sampai pukul 11.30, saat nyonya Maynooth dan anak gadisnya pulang. Karena ingin mengucapkan selamat tidur, nyonya Maynooth masuk ke kamar anak laki-lakinya. Pintunya terkunci dari dalam dan tidak ada jawaban saat ia mengetuk pintu dan memanggil-manggil anaknya. Selang beberapa waktu, bantuan pun datang dan pintu didobrak. Pria muda yang malang itu ditemukan terbaring di dekat meja. Kepalanya rusak mengerikan karena peluru, tapi tidak ada satu jenis senjata pun ditemukan di ruangan itu.

Pemeriksaan lebih lanjut tentang lah itu hanya membuat kasus semakin rumit. Pertama tidak ada alasan mengapa pria muda itu harus mengunci dari dalam. Ada kemungkinan si pembunuh yang telah melakukan hal itu dan melarikan diri lewat jendela. Paling tidak jatuhnya sekitar 20 kaki dan ada taman bunga yang penuh dengan bunga mengembang di bawahnya. Namun, baik bunga maupun tanah itu tidak menunjukan tanda-tanda kerusakan, dan tidak ada tanda-tanda di sebidang tanah sempit berumput yang memisahkan rumah itu dengan jalan. Oleh karena itu, sudah jelas kalau pria muda itu sendiri yang telah mengunci pintu. Tapi bagaimana dia meninggal?

Sepanjang hari saya memikirkan fakta-fakta ini, berusaha keras untuk mendapatkan teori-teori yang dapat menentramkan semua dan menemukan suatu tanda perlawanan kecil yang sering dinyatakan oleh rekan saya yang malang sebagai poin permulaan dalam setiap penyelidikan.

Saya merasa sangat pusing untuk menangani kasus ini. Untunglah teman saya Holmes yang telah menghilang selama tiga tahun dapat membantu saya. Selama tiga tahun Holmes telah mengelilingi dunia. Banyak orang mengatakan bahwa dia mati bersama Professor Moriarty. Setelah pulang dia menceritakan kepada saya kejadian yang ia alami selama tiga tahun.

Malam itu benar-benar sama dengan malam yang sebelumnya. Pada saat yang sama saya duduk di dalam kereta dekat Holmes dengan pistol dikantung. Kami pergi menunggagi kereta kuda milik Holmes. Di tengah perjalanan tiba-tiba Holmes memberhentikan keretanya dan keluar untuk memastikan bahawa kami tidak dibuntutui. Setelah itu Holmes memacu kereta kudanya dengan cepat melewati gang-gang setapak yang ada di kota London itu. Akhirnya kami sampai pada sebuah Rumah Tua.

Di sana Holmes menarik tangan saya dan mengajak saya masuk melewati pintu belakang. Di dalam sana terasa sangat gelap sekali. Hanya ada beberapa sinar dari Baker Street yang masuk melalui jendela. Saya di suruh oleh Holmes untuk mengamati tempat tinggal kita dari jendela tersebut. Ternyata apa yang saya lihat? Saya melihat sesosok Holmes sedang duduk bersantai di depan rumah kami. Lalu setelah saya bertanya ke Holmes bahwa yang ada di rumah tersebut hanyalah boneka yang menyerupai Holmes.

Boneka itu digunakan sebagai umpan untuk menangkap pelaku yang ingin membunuh Holmes juga kematian Ronald Adair. Dan Holmes menyatakan bahwa setiap seperempat jam sekali Nyonya Hudson membuat perubahan kepada boneka itu. Rencana teman saya sedikit demi sedikit mulai menampakan hasil.sekarang ini pengintai menjadi diintai, dan pemburu menjadi diburu. Dalam kesunyian kami sama-sama berdiri di ruangan itu dan melihat beberapa sosok tergesa-gesa berlalu dan kembali lagi di depan kami. Holmes diam dan tak bergerak, tapi saya dapat mengatakan bahwa ia sangat waspada dan matanya benar-bentar sangat tertuju pada orang yang lalu lalang itu. Ini adalah malam yang gelap dan ramai, suara angin bersiul di jalan yang panjang itu. Banyak orang kesana kemari, kebanyakan memakai jubah dan syal tebal di lehernya.

Tapi tiba-tiba saya sadar bahwa persaannya yang tajam dapat merasakan sesuatu dengan begitu jelas. Ada suara yang begitu lirih sampai ke telinga saya. Suara itu tidak berasal dari arah Baker Street, namun dari belakang rumah tempat kami bersembunyi. Holmes menarik badan saya ke belakang dan merapat pada dinding. Tangan saya berada di dekat gagang pistol. Saya mengintip ke belakang dan melihat samara-samar sosok seorang pria. Bayangannya lebih gelap dari pada gelapnya rumah ini dengan pintu yang terbuka. Ia berhenti sebentar, ia berada tiga yard dari kami. Wajahnya begitu seram. Sebelum saya sadar bahwa ia tidak tahu keberadaan kami di ruangan itu, saya telah berusaha untuk tidak menatapnya. Dengan pelan dan hamper tidak bersuara, ia membuka jendela itu setinggi setengah kaki.setelah jendela itu terbuka, cahaya dari lampu-lampu jalan jalan yang tidak suram lagi karena kaca jendela yang berdebu menyinari wajahnya. Pria itu tua, kurus, tinggi, hidungnya menonjol, botak, kumisnya sangat lebat, dan beruban. Ia berdiri dan saya melihat kalau sesuatu yang ia pegang di tangannya adalah sejenis senjata dengan ujung yang aneh, namun sangat serasi. Ia mengarahkan senapannya keluar jendela. Sasarannya adalah pria hitam yang ada di jendela yang terang dan berada di ujung pandangannya. Jari-jarinya menyentuh pelatuk. Sesaat kemudian ada suara desingan keras dan suara kaca jendela pecah dan kilauan yang hancur berkeping-keping. Saat itu juga Holmes menerkam punggung si penembak itu seperti seekor singa dan melayang kan tinjunya ke muka orang itu. Orang itu terlihat terengah-engah. Dan terdengar ada suara orang yang lari beramai-ramai dari arah terotoar. Dua orang polisi berseragam dan seorang detektif berpakaian sederhana bergegas memasuki pintu rumah. Dan meringkus tawanan itu.



No comments:

Post a Comment