Saturday, May 7, 2016

Review Buku Bushido, The Soul of Samurai



Saya percaya, masa kecil kita akan menentukan pembentukkan karakter diri dimasa yang akan datang, teman-teman percaya? i hope so.

Hidup dalam masa kanak-kanak pada tahun 2000an tentu memiliki cita rasa tersendiri, terlebih pada sebuah tayangan hiburan oleh Jepang yang diputar disetiap sorenya, yup, apalagi kalau bukan anime! Ternyata, -bagi saya- anime sedikit banyak memberikan motivasi positif kepada diri. Tentu tidak semua anime, dan beberapa anime saja yang seperti ini. Salah satunya adalah berjudul Samurai X, dengan tokoh utama adalah Kenshin Himura.

Berbicara tentang samurai, atas kegagahan dan sikap kekesatriannya, disini saya akan sedikit mereview buku yang berjudul Bushido, The Soul of Samurai -jalan kebijaksanaan para kesatria Jepang- yang ditulis oleh Inazo Nitobe, Ph.D (Ekonom & Diplomat Jepang)

Pertama kita akan mengupas pengertian dari Bushido, bagi para samurai Bushido digunakan sebagai sistem etika, bagi negara Jepang, sikap kesatria adalah bunga yang sama aslinya seperti bunga nasional mereka, sakura. Sikap kesatria masih menjadi kekuatan dan keindahan yang hidup di antara para samurai, dan meskipun tidak dianggap sebagai bentuk yang nyata, tetapi atmosfer bushido masih sangat terasa dan berpengaruh kuat.

Di Jepang, sebagaimana juga di Eropa, saat feodalisme secara resmi diperkenalkan, kelas kesatria langsung menjadi terkenal. Mereka adalah orang-orang yang dikenal sebagai samurai, artinya hampir mirip dengan kesatria dalam bahasa Inggris kuno (knecht, knight), penjaga atau pengawal. Seorang samurai di Jepang adalah kelas masyarakat yang istimewa. Kelas ini muncul begitu saja, selama masa perang berlangsung cukup lama, dari kelompok pria paling jantan dan paling pemberani, dan selama prosesnya terjadi eliminasi, pria-pria yang lemah dan penakut tersingkir, dan hanya menyisakan pria-pria tangguh, maskulin, dengan kekuatan brutal.

3 (dari 7) Prinsip Bushido:

1. Kejujuran atau Keadilan
Kejujuran atau Keadilan ini merupakan ajaran paling meyakinkan dalam kode samurai. Tidak ada yang lebih memuakkan bagi samurai daripada tindakan curang dan kebohongan. Seorang bushido mendefinisikannya sebagai kekuatan resolusi: "Kejujuran adalah kekuatan untuk memutuskan tindakkan tertentu sesuai dengan alasan, tanpa kebimbangan.. untuk mati jika hal yang benar adalah mati, untuk menyerang jika tindakan yang benar adalah menyerang"

Pada masa saat kelicikan diandalkan untuk taktir militer dan kebohongan untuk taktik perang, sifat-sifat kejujuran dan keterusterangan menjadi permata yang bersinar paling terang dan diharga paling tinggi. Sifat kejujuran atau keadilan ini juga dapat di sebut dengan Giri (Alasan yang benar). Pada dasarnya Giri memiliki arti tidak lebih dari tanggung jawab, Giri diformulasikan dengan sebuah alasan tindakkan kenapa kita bergerak, biasanya alasan seorang bergerak adalah karena cinta, jika bukan karena cinta, maka seorang diharuskan mencari alasan untuk meyakinkan dirinya akan pentingnya bertindak benar. Itu sebabnya, memahami Giri adalah tugas yang sangat berat, seperti memaksa pemalas untuk menjalankan tugas dengan sapu lidi.

2. Keberanian, Jiwa Pemberani, dan Pembawaan Diri
Jika definisi keberanian hanyalah melakukan apa yang benar, menerjang segala jenis bahaya, mempertaruhkan diri sendiri, menerobos rahang kematian, maka keberanian atau keperkasaan itu -seperti yang disebut oleh Shakespear- adalah keperkasaan yang keliru.

Begitu juga dengan aturan kekesatriaan, kematian yang disebabkan oleh alasan konyol disebut sebagai "kematian anjing"

"Tergesa-gesa terjun ke medan pertempuran sengit dan terbunuh disana, sangatlah mudah, dan penduduk desa sekalipun bisa melakukannya. Tapi, butuh keberanian sejati untuk hidup saat ha yang benar untuk dilakukan adalah hidup, dan untuk mati saat hal yang benar untuk dilakukan adalah mati"

Keperkasaan, ketabahan, tak kenal takut adalah sifat jiwa yang paling mudah menarik pikiran para pemuda. Semua sifat itu juga dilatih melalui pelatihan dan contoh. Semuan sifat itu juga menjadi sifat yang paling populer dan bisa ditiru pemuda sejak dini. Jika ada seorang anak laki-laki menangis karena sakit, sang ibu akan menegurnya dengan cara seperti ini: "Sungguh pengecut menangisi rasa sakit yang tidak seberapa! apa yang akan kau lakukan jika lenganmu terpotong dalam pertempuran? kesalahan sebesar apa yang kau butuhkan untuk berani melakukan harakiri?"

Orang tua dengan ketegasan yang terkadang mengarah pada kekejaman,menyiapkan anak-anak mereka untuk tugas yang membangkitkan semua keberanian yang aa di dalam diri mereka. Putra seorang samurai ditinggalkan di lembah dalam yang penuh dengan kekerasan, dan harus menjalankan tugas berat. Sesekali kehabisan makanan atau kedinginan, tapi semua itu diaggap sebagia ujian ampuh untuk melatih ketahanan diri mereka.

Anak-anak sejak usia muda sudah dikirimkan ke tempat asing untuk menyampaikan pesan, dipaksa bangun sebelum matahari terbit, dan harus mengikuti kelas membaca sebelum sarapan, berjalan menghampiri guru mereka dengan bertelanjang kaki di tengah musim dingin yang menusuk, datang bersama dalam kelompok kecil melewati malam tanpa tidur, membaca secara bergantian dengan suara lantang.

Berziarah ke semua tempat yang tidak biasa -tempat eksekusi, ke kuburan, ke rumah yang diketahui dihantui makhluk hakus- enjadi aktivitas senggang favorit anak-anak muda dari para samurai. Pada masa ketika pemenggalan dilakukan di depan umum, anak lelaki kecil bukan hanya dikirim untuk menyaksikan adegan mengerikan tersebut, tapi mereka juga dipaksa untuk datang sendirian ke tempat itu pada tengah malam dan meninggalkan bukti kedatangan mereka di kepala yang terpenggal lepas dari tubuhnya.

Itu adalah sistem super-Sparta yang mungkin akan merusak dan menghancurkan secara brutal emosi lembut hati anak-anak. Berbeda dengan bushido, aspek spiritual dibuktikan dengan ketenangan-ketenangan pikiran. Ketenangan adalah keberanian yang sedang beristirahat. Itu merupakan manifestasi statis dari keberanian, sementara tindakan berani merupakan manifestasi dinamisnya.

Orang yang benar-benar pemberani adalah orang yang selalu tenang; tidak pernah terkejut, tidak ada yang bisa mengusik ketenangan jiwanya; ditengah pertempuran yang sengit, ia tetap tenang; ditengah bencana dashyat, ia menjaga pikirannya tetap jernih. Gempa bumi tidakmemmbuatnya terguncang, ia menertawai badai yang menghadang.

Kita mengaguminya sebagai orang yang benar-benar hebat, yang di tengah ancaman bahaya dan kematin, masih bisa mmepertahankan ketenangan dirinya; yang misalnya saja, bisa menulis puisi di bawah tekanan bahaya atau bersenandung di hapadan kematian. Kemampuan untuk tidak menunjukkan ketakutan dalam tulisan atau dalam suara, dianggap sebagai bentuk sempurna dari luasnya pikiran, yang meskipun ditekan atau dipadatkan, selalu ada ruang untuk sesuatu yang lain.

Itu sebabnya dalam peperangan kuno bukan sesuatu yang langka jika pihak yang berkonflik saling bertukar jawaban yang mengena atau memulai kontes retorika. Pertarungan bukan sekedar masalah kekuatan brutal, tapi juga keterlibatan intelektual.

3. Kebajikan dan Perasaan Sedih
Saat keberanian mencapai ketinggian ini, maka keberanian itu menjadi sama dengan Kebajikan, Perasaan Sedih, cinta, kemurahan hati, rasa sayang pada orang lain, simpati, dan kasihan, yang dianggap sebagai sifat-sifat terbaik, yang tertinggi dari semua sifat manusia.

Kebajikan  adalah sifat yang memiliki dua sisi, yang diutamakan di antara sifat ang harus dimiliki oleh bangsawan; diutamakan untuk orang yang berkedudukan tinggi dan bahwa belas kasihan lebih berharga dari mahkota, bahwa belas kasihan lebih tinggi dari ayunan tongkat kerajaan.

Kebajikan adalah akar, dan kekayaan merupakan hasil panennya. Selain itu tidak pernah ada kasus tentang kedaulatan yang mengalahkan kebajikan, dan orang tidak menyukai kebenaran.

Kita tahu bahwa kebajikan adalah nilai yang lembut dan penyayang layaknya seorang ibu. Jika Kejujuran dan Keadilan terkesan maskulin, Belas Kasih memiliki kelembutan dan pengaruh feminim.

Untungnya, Belas Kasih bukan hanya indah tapi juga tidak terlalu langka, karena ungkapan ini sangat benar bahwa "yang paling berani merupakan yang paling lembut, yang paling penyayang merupakan yang paling berani" sebutannya Bushi no nasake (kelembutan seorang kesatria).

Tetapi bukan berarti belas kasih seorang samurai sangat berbeda dengan belas kasih makhluk lain, tapi karena belas kasih itu berkaitan dengan keadilan dan belas kasih itu didukung dengan kekuatan untuk menyelamatkan atau membunuh.

Pada prinsipnya, para samurai juga mengatakan bahwa perasaan sedih adalah akar dari kebajikan, itu sebabnya orang yang bijak selalu memikirkan mereka yang menderita dan sedih.

Dalam pertempuran Sumano-ura (1184 M), yang merupakan salah satu kejadian paling suram dalam sejarah Jepang, seorang penunggan gkuda itu nengalahkan musuhnya dan hanya dalam sekali serangan berhasil menaklukkan lawannya. Etika perang sekarang menegaskan tidak boleh ada darah yang ditumpahkan, kecuali pihak yang lebih lemah terbukti memiliki posisi atau kemampuan yang setara dengan lawannya. Si penunggang kuda yang menang diberitahu nama orang yang dikalahkannya, tapi ia menolak mengumumkannya, helm pihak yang kalah terlepas dan saat melihat wajah seorang pemuda yang masih plos dan bersih, sang kesatria penunggang kuda mengendurkan cengkraman udanya pada leher pemuda itu. Setelah membantu pemuda  itu berdiri, dengan nada suara kebapakan sang kesatria penunggang kuda meminta pemuda itu pergi, "Pergilah, pangeran muda, ke sisi ibumu! Pedang Kumagaye tidak akan pernah ternodai oleh darahmu. Cepatlah pergi sebelum musuhmu datang!"

Pemuda itu menolak pergi dan memohon pada Kumagaye, demi kehormatan mereka berdua, untuk membunuhnya di tempat itu juga. Diatas kepala sang kesatria berkilau mata pedang yang tajam, yang sebelumnya telah banyak merenggut nyawa musuhnya, tapi hati kesatria itu tergerak; di dalam mata batinnya berkelat sosok putranya sedniri, yang di saat yang bersamaan sedang pergi berperang untuk menguji kemampuannya sebagai pemula. Tangan kokoh sang kesatria bergetar; sekali lagi ia memohon pada korbannya untuk pergi dan menyelamatkan diri.

Mengetahui bahwa semua permohonannya sia-sia dan ia juga mendengar suara langkah rekannya yang datang mendekat, sang kesatria berseru, "Jika kau tertangkap, kau mungkin akan jatuh ke tangan orang yang lebih tercela daripada aku. Oh, Tuhan yang Abadi! Terima jiwanya!"

Dan seketika itu juga pedang menebas udara, dan saat diturunkan lagi pedang itu sudah merah oleh darah kedewasaan. Saat perang berakhir, para prajurit pulang dengan membawa kemenangan, tapi sang kesatria tidak peduli sedikit pun dengan kehormatan atau kemasyhuran, ia meninggalkan karier berperangnya, mencukur rambutnya, mengenakan pakaian pendeta, mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk melakukan perjalan suci, tidak pernah membalikkan punggungnya ke Barat, di mana terdapat surga, dimana keselamatan datang dan ke mana matahari bergerak dengan cepat setiap hari.

Dua Momentum


Bismillahirahmanirrahim..

Bulan itu adalah bulan yang cukup padat bagi seorang pemuda yang baru menginjakkan usianya di angka dua puluhan. Bagaimana tidak? undangan walimatul ursy berdatangan setiap waktunya dan bertengger rapih hampir di setiap jadwal akhir pekanan. Akhir pekan yang biasanya di habiskan dengan aktivitas lain, setelah menjadi mahasiswa tingkat akhir, maka seketika itu aktivias pekanan berubah haluan, menjadi peserta disetiap undangan walimahan, tentu lebih banyak undangan dari kakak kelas, bukan yang seangkatan.

Waktu itu saya menghadiri salah satu undangan walimatul ursy di luar kota Malang. Seperti biasanya, bersama dengan teman-teman menggunakan mobil sewaan berangkat malam hari agar sampai di tempat acara tepat waktu pada pagi hari di keesokan harinya. Tentu yang kita kejar adalah akad, tidak sekedar datang resepsi.

Selama perjalanan di tengah pekatnya malam, -kebetulan saya waktu itu duduk di depan, mendampingi teman saya yang sebagai supir saat itu- saya merenung, mengingat-ingat wajah kakak kelas saya yang sepertinya baru saja kemarin bercengkrama bareng-bareng dan sekarang dia sudah akan menggenapkan separuh agamanya, memulai kehidupan yang lebih serius lagi, tentu dengan segudang tanggung jawab yang lebih besar, apalagi kalau bukan ta'winu baitim muslim, membentuk keluarga yang Islami.

Dalam sebuah perenungan di tengah perjalanan tersebut, saya ingat beberapa kajian dan buku-buku tentang pentingnya menyiapkan diri untuk pernikahan, mulai dari fikriyah, jasadiyah, ilmu, mal, dan lain sebagainya. Kemudian pikiran saya menerawang kepada sosok-sosok pemuda yang rela mati-matian menyiapkan segala hal yang terbaik untuk menyambut pernikahannya. Tentu, mereka adalah orang-orang yang kemudian selalu serius dalam menyiapkan amal-amalnya, selalu berbuat ihsan dalam mempersembahkan amal terbaik.

Saat masih merenung dalam sebuah pekatnya malam, tetiba sebuah inspirasi itu datang, Allah hadirkan dalam bentuk perenungan komparasi dengan hal lain, yaitu kematian.

Ketika itu pikiran saya hampir tersentak, akan sebuah kata dari kematian. Saya berfikir, pernikahan itu misteri, dan adalah langkah yang baik jika mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk pernikahan. Tetapi di satu sisi, saya juga berfikir, bahwa kematian itu pasti, lebih pasti bahkan, sehingga persiapannya seharusnya harus lebih matang dan serius lagi!

Ikhwatifillah, ada dua momentum dalam hidup kita, yang perlu kita siapkan sedang sematang-matangnya persiapan, yaitu pernikahan dan kematian. Bukanlah sebuah hal yang bijak jika memberikan porsi yang lebih besar kepada salah satunya dan meremehkan salah satunya, kedua-duanya adalah momentum yang harus dijaga keseriusannya, dalam niatnya, dalam persiapannya, dalam amal-amalnya.

Akan ada dua momentum dalam hidup kita, pernikahan dan kematian. Yang satu mungkin akan membuat kita tersedu haru, penuh syukur saat kita melaksanakannya, yang satu mungkin akan membuat kita tersenyum lebar atau -naudzubillah- menangis tersedak-sedak karena kurang mempersiapkannya.

Mari, pesiapkan dengan sebaik-baiknya, disetiap momen-momen besar dalam hidup ini, sehingga kelak, tidak ada rasa penyesalan dalam diri ini, karena kita sudah berikhtiar sejak dini, semampu diri, tentu, dalam rangka menggapai ridho illahi.

Thursday, January 21, 2016

Rahasia Kecerdasan Yahudi



Ada artikel menarik yang saya sadur dari salah satu akun sosmed teman saya, 
Silahkan disimak. Judulnya Rahasia Kecerdasan Yahudi

Dr Stephen Carr Leon menghabiskan masa 3 tahun di Israel untuk menjalani housemanship di beberapa rumah sakit disana.

Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, “ Mengapa Yahudi Pintar? ”

Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California, terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar?

Kenapa Tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri? ( pertanyaan yang sama dalam benak saya, kenapa setiap orang sukses tak lepas dari bangsa Yahudi lagi bangsa Yahudi lagi ! )

Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk Phd-nya.
Dengan tekadnya yang bulat maka dimulailah pengamatannya itu.
Masa Kehamilan sang ibu.

Begitu wanita Israel yang mengetahui bahwa dirinya tengah mengandung anak, maka langsung sang ibu tersebut sering bernyanyi dan bermain piano dan juga membeli buku matematika.

Bermain piano dan bernyanyi bertujuan untuk mempengaruhi suasana hati bawaan si bayi tersebut ketika lahir. Dengan bernyanyi dan bermain piano,maka sang ibu akan merasakan ketenangan.

Diharapkan sang bayi akan memiliki karakter bawaan yang tenang dan berfikir matang ketika menghadapi masalah hidup nantinya.

Sedangkan mengerjakan soal matematika bertujuan untuk mengembangkan kecerdasan otak bayi yang ada dalam kandungannya.
Agar anak mereka terkahir dengan otak jenius.

Dan para ibu Yahudi yang tengah mengandung, terus menerus mengerjakan soal matematika yang ada sampai tiba saat melahirkan. Kadang mereka mengerjakan bersama suaminya dan bertanya kepada saudara-saudaranya bila ada soal yang terasa sulit.

Artinya…mereka tidak melatih kecerdasan otak anak mereka dari kecil, dari balita, dari umur 3 bulan, tapi dari sejak di dalam kandungan !
Sebuah perencanaan yang dalam sekali !

Cara makan :

Sejak awal mengandung dia suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala (sekali lagi, tanpa kepala!) bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan.

Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan.

Sama seperti kebiasaan orang Jepang yang jenius juga dalam kerajinan memakan daging ikan.

Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. Menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan.

Ketika diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi. Begitu Stephen menceritakan, “Perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet),” ungkapnya.

Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam.

Prinsip : “ kalau sudah makan ikan, tidak boleh ada daging yang dimakan bersamaan “ ternyata sama dengan prinsip makannya Rasullullah S.A.W, manusia terjarang sakit sedunia.

Mereka juga akan makan buah-buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah-buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk.

Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.
Ternyata makan nasi dahulu baru buah, akan menyebabkan buah busuk. Karena proses pencernaan makanan di dalam perut kita itu memakan waktu yang lama. Sehingga akan membuat buah mengalami antrian yang panjang sampai akhirnya dia keburu busuk duluan.

( Pernah membiarkan apel yang sudah terkelupas khan ? lama-lama akan kuning dan bisa membusuk khan ? itu hanya didiamkan dan terkena udara loh…bagaimana kalau dicampur olahan makanan di dalam perut kita ? Sudah pasti busuk duluan sebelum dapat diproses. Jadi istilah “makan buah setelah makan nasi” sebagai pencuci mulut itu SALAH. Makan buah sebelum makan nasilah yang benar, bukan setelah makan nasi. Percuma. )

Anak-Anak Yahudi :

Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever).

Kacang Badam = Kacang Almond, atau Buah Almond, mirip dengan Buah Persik dan Aprikot, hanya saja daging buahnya dibuang saat dipanen, sehingga hanya menyisakan bijinya, karena itu disebut sebagai kacang.

Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata-rata mereka memahami tiga bahasa: Hebrew, Arab dan Inggris.
( Ternyata mempelajari sesuatu yang baru itu menyeimbangkan kedua belah otak kita. Contohnya ya seperti mempelajari bahasa yang berbeda – beda )

Sejak kecil pula mereka telah dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban. Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar.
Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak. Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi.

Musik yang mereka dengarkan ya musik yang bisa menambahkan kecerdasan otak mereka. Yaitu musik yang lagak-lagak bethoven gitu deh.
( Ternyata sesuai dengan yang dikatakan Adi W Gunawan di buku Born To BE Genius )

Masa kanak-kanak :

Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, “Perbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun kebelakang!” katanya.

Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi, olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka.
Olahraga yang diutamakan adalah memanah, menembak dan berlari.
Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus. Disamping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara.

Saya pernah membaca buku ( saya lupa judulnya ) yang mengatakan : kalau anak-anak yang jago dalam hal olahraga, biasanya mereka mempunyai kemampuan mengambil keputusan yang cepat, karena otak mereka terlatih bergerak cepat, terlepas dari bagus atau tidaknya prestasi mereka disekolah.

Sekolah Tinggi :

Di sini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius.
Apalagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang lebih tinggi.

Satu lagi yg diberi keutamaan ialah fakultas ekonomi. Dr Stephen Carr Leon sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar ekonomi.

Di akhir tahun di universitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Dan mereka harus mempraktekannya. Anda hanya akan lulus jika tim Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US 1 juta!

Anda terperanjat? Itulah kenyataannya. Entrpreneurship dan networking digelorakan.

Oh iya…
Merokok bagi mereka adalah sesuatu yang tabu.
Bila Anda diundang makan di rumah Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka.

Menurut ilmuwan Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak ( bodoh). Suatu penemuan dari saintis gen dan DNA Israel.

Jadi merokok merupakan sesuatu yang kejam dan menjijikan bagi orang Israel ! Perbuatan terkutuk dan kejam bagi mereka mungkin. Karena bukan saja merusak gen untuk keturunannya, tapi juga merusak gen orang-orang yang ikut menghirupnya.

Hei.. bandingkan dengan Indonesia !!!

Di jalanan, di angkot, di mall-mall, di warteg, di kampus, bahkan di beberapa TERAS MASJID yang pernah saya kunjungi. ( Apa coba di tempat ibadah, malah ada perusak generasi bangsa, yang namanya rokok )

Kalau mau negeri ini berubah dan anak bangsa kita cerdas-cerdas, hilangkan rokok !

Jangan menyalahkan pemerintah dulu dech… para orang miskin jangan cuma bisa menuntut pemerintah banyak melakukan korupsi dech…

Rokok dulu tuh hilangin ! ( Uang rokok mendingan buat beli beras )
Jadi mahasiswa jangan belagu ikutan demo-demo dech, kalau masih gelantungan di bis sambil ngebulin asap rokok ! Apalagi kalo masih anak sekolahan !

Para ustad-ustad di pesantren tolong dilepas tuh sorban, kalo masih ngebulin asap rokok ! ( ustad yang gak ngerokok jangan ngamuk ya…)

Okeyh…
Mari kita bersama-sama simpulkan kenapa bangsa Yahudi bisa sangat amat sangat cerdas sehingga bisa menguasai dunia, baik dari segi kepintaran, teknologi, maupun perekonomian.

1. Melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses dan ketekunan dalam membina generasi penerus.

2. Para orang tua bangsa Yahudi mengerti bahwa melatih anak menjadi cerdas, bukan saat anak mereka umur belasan tahun ataupun masih kecil, tapi saat anak mereka masih di dalam kandungan ! Mereka mengerti baik karakter dan kepintaran anak, tergantung dari aktivitas apa yang para ibu lakukan sewaktu mengandung anak tersebut.

3. Mereka mengharamkan rokok!!!

Allahu a'lam..

Wednesday, September 30, 2015

Peran Ayah dalam Pendidikan Anak



Mau berbagi sedikit ilmu yg baru,
 Nyimak pengajian nya adalah ustadz Bendri Jaisyurrahman pakar islamic parenting dan konselor pernikahan. 

"Peran Ayah dalam pendidikan anak"

Ketika ada tenaga medis bukan dokter hanya mantri lantas asal memberi obat jatuh korban maka akan di anggap mal praktek

Ketika ada sopir metromini lantas mengendarai pesawat tanpa punya ilmu nya akan di anggap mal praktek.

Lalu bagaimana saat ayah dan ibu tidak mempunyai ilmu lantas mereka mempunyai penumpang yang bernama anak ---> mal praktek? 
Menghasilkan :

1) Anak2 yang kerdil jiwa nya. Jiwa anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa. 

2) Degradasi psikis , akibat nya saat ini  lemah. Dari anak2 lemah ---> menjadi laki2 lemah---> ayah yang lemah---> mencetak anak2 tidak berkualitas. 
Anak sekarang hasil penelitian secara psikis setengah umur biologis nya. Anak kuliah berprilaku seperti anak SMP. Anak smp berbicara seperti anak TK "ciyus, miapah,dll"

3) Fenomena cabe2an dan anak alay... 
Apa sih anak Alay ?? Mati pola pikir / thinking shock. 
Ciri-ciri : 
- tidak bisa milih / membuat keputusan. 
"Kamu mau makan apa? Hmmm terserah deh... "
Diajak sholat hayuk, diajak maksiat hayuk.. 
Pagi ke majlis ta'lim, malam dugem
-tidak bisa describe.
"Yaaa gitu deh.." 

Penyebab fenomena cabe2an ---> kehilangan sosok ayah

Karena ayahlah yg mengajarkan rasionalitas, otak kiri. Anak yang di besarkan tanpa sosok ayah akan tumbuh emosional dan tdk rasional. 

FENOMENA FATHER HUNGER 

Indonesia saat ini di sebut sbg Fatherless Country , banyak anak yang berayah namun yatim. Kerusakan psikologis yang di derita anak2 karena kehilangan sosok ayah. 

Anak yang dekat dengan ayah nya cenderung menjadi pribadi yang percaya diri dan mudah beradaptasi dengan lingkungan luar. Karena bagi anak2, ayah adalah sosok misterius karena jarang pulang. Namun ketika seorang ayah bisa menjalankan peran nya. Maka anak akan menyimpulkan bahwa dunia luar aman bagi nya. 

Stimulus pagi hari, hasil penelitian anak akan termotivasi menjadi sosok orang yang membangunkan dia di pagi hari... Anak yg di bangunkan oleh ayah akan lebih sukses drpd yang di bangunkan oleh ibu. Karena di mindset anak ayah adalah sosok penuh challenge sementara ibu lebih kepada urusan domestik dalam rumah. 

Efek dari "father hunger"

1. Kurang dapat beradaptasi dengan lingkungan luar. Sekolah nempel terus ke ibu nya minta di tungguin.

2. Minder

3. Gay/ melenceng orientasi seksual
Hasil research --> 100% gay krn kehilangan sosok ayah

4. Kesulitan dalam belajar

5. Perasa / susah mengambil keputusan
----> kebanyakan diasuh ibu

6. Kalo perempuan , susah membuat kriteria pasangan. Buat anak perempuan yg dekat dengan ayah nya dia akan dgn mudah apa kriteria pasangan hidup nya? Yang seperti ayah saya.. Karena seharus nya seorang ayah adalah first love bagi anak perempuan nya. 

Kebutuhan dasar anak wanita : 
- di cintai
-di sayangi
-di puji

"Tau kah kamu nak, tidak ada satu laki2 di dunia ini yg mencintai km melebihi cinta ayah kepada kamu"

"Nak, tidak akan ayah biarkan satu laki2 pun menyakiti hati mu"

"Buat ayah, kamu adalah princess ayah , putri nya ayah yang paling cantik" 

Anak2 perempuan yang saat kecil nya tidak mendapat kan ketiga hal diatas akan haus kasih sayang, sehingga ketika beranjak dewasa di rayu oleh laki2 mudah sekali karena dia mendapat apa yg tdk dia dapatkan seharus nya , laki2 yang memuja dia, akibat nya dgn mudah menyerahkan diri dan kehormatan nya... 

Buat wanita yang sudah menikah, kalo menghadapi masalah dalam rumah tangga nya dia akan mudah give up, menuntut cerai dia dgn mudah menyimpulkan bahwa smua laki2 brengsek. 


Saat ini banyak anak berayah namun yatim, karena fungsi ayah saat ini hanya 2 : 
-memberi nafkah
-memberi ijin nikah

Ayah tidak tau kapan anak laki2 nya mimpi basah, subuh ketok pintu "bangun , sholat ke masjid" si anak tdk tau bahwa dia mimpi basah dan harus mandi junub. Berangkat ke masjid tanpa mensucikan diri

Padahal 58% anak Indonesia mengalami mimpi basah pertama nya saat kelas 5 SD (pubertas dini) sementara menurut mendiknas pelajaran mandi junub baru di berikan saat kelas 2 smp. Bayangkan selama berapa tahun si anak sholat ibadah nya tdk sah. 

FATHERLESS COUNTRY!

- 0-2 thn pengasuhan full oleh ibu

- Usia pre school --> 90% guru di sekolah2 pre school adalah perempuan
- Usia TK --> sama tenaga pendidik perempuan smua
- Usia SD --> sama tenaga pendidik mayoritas ibu2 

Padahal 0-7thn adalah golden age pembentukan karakter , harus imbang stimulan ibu dan ayah

Bayangkan saat cerita ttg sosok Umar ibn Khatab yg bercerita adalah ibu guru tdk bs heroik, harus nya sosok umar itu gagah perkasa. Sosok ibu2 tdk akan bs mewakili. 

Maka ketika ada pepataha ttg "al ummu madrasatul ula: seorang ibu adalah sekolah pertama anak2 nya maka tambahkan dan ayah adalah kepala sekolah nya. 

Apa fungsi seorang kepala sekolah : 

1. Membuat tenaga pendidik nya nyaman. Nyaman kan istri mu , bahagiakan istri mu itu adalah hal terbaik yg bs km berikan kepada anak2 mu. Saat istri kita bahagia maka anak kt akan di besarkan dgn bunga2 yang indah, namun sebalik nya saat istri kt tdk bahagia tdk terjamin hidup nya , kesejahteraan nya dia akan membuang emosi sampah kepada anak2 kita. 

2. Menentukan visi dan misi anak didik nya. Mau di jadikan apa anak anak didik nya. Ayah lah yang menentukan lantas mensosialisasi kan nya kepada istri sbg tenaga pendidik

3. Evaluasi, ini lagi2 bukan tugas istri namun tugas kepala sekolah. Panggil tenaga pendidik "umi, kok abi liat anak kita udh umur 10th belum bisa baca al fateha coba gimana sekolah nya , umi ajarkan tdk? Dll

4. Membuat aturan, jangan kebalik ibu2 yang bikin aturan ini itu macem2, saat ayah pulang ayah lah yg melemahkan aturan2 yg ada. Aturan harus nya di buat oleh sang kepala sekolah dan di sosialisasikan pd tenaga pendidik sbg org di lapangan. Misal : kalo abi dengar nanti umi lapor km nonton TV lebih dr 3jam , fasilitas TV abis cabut. Dimana2 yang nama nya kepala sekolah memang tdk selalu hadir tapi peran nya sangat krusial. 

Jadi para ayah meski anda harus selalu keluar rumah utk mencari nafkah pastikan saat pulang ke rumah jiwa raga anda untuk anak2 anda. Karena apa? Dalam Al Quran ada 17 dialog ttg anak, 14 diantara nya ttg ayah- anak , Luqman dan anak nya, Ibrahim- Ismail, Ibrahim - Ishak, Syuaib dan anak nya, dsb . Hanya 2 dialog dalam Al Quran yang berisi dialog ibu dan anak, suadara Musa dan Maryam-Isa. 

Karena dalam Islam seorang anak akan ikut nasab ayah nya, nasab adalah berarti pertanggung jawaban akan di minta dr seorang ayah berhasil dan gagal ayah yg akan di mintai pertanggung jawaban sesuai nasabnya.

Kader Militan Itu ..



Kader Militan Itu....
Oleh: Bunda Rochma Yulika

Kader militan itu...
Ketika diri mampu menahan segala lelah ketika banyak orang berkeluh kesah

Kader militan itu ....
Ketika sanggup meninggalkan keadaan yg nyaman menuju ketidaknyamanan

Kader militan itu.....
Mampu bersabar dengan segala keadaan selama ia berada bersama Allah dan kafilah dakwah

Kader militan itu.....
Kala banyak manusia memilih mencari popularitas, tapi dirinya memilih Allah yang menjadi prioritas

Kader militan itu...
Ketika banyak orang terkesima oleh tipu dunia fana, ia bergegas melangkah menuju cinta Rabbnya

Belajarlah menjadi kader militan yang senantiasa bersama dakwah dalam segala keadaan.

Belajarlah menjadi kader militan yang istiqamah di jalan kebaikam meski diri dirudung kelemahan

Bersegeralah menuju jalan yang telah diajarkan oleh para nabi dan salafusshaleh agar diri terselamatkan.

Kader militan itu tak sama dengan kader karbitan apalagi kader ikut-ikutan.

Mereka paham benar bahwa setiap fase dalam rangka berproses akan dilaluinya dengan sabar
Mereka mengerti bahwa dengan banyak belajar akan muncul jiwa-jiwa tegar pengusung amanah dakwah selayaknya tentara Badar.

Tundukkan hati jaga pandangan
Atur lisan sehingga diri menjadi manusia spesial tak hanya di hadapan manusia tapi yang utama di hadapan Allah.

Kader militan itu sangat memahami bahwa jalan dakwah bukan seperti bunga yang sedang merekah indah.

Kader militan juga menjunjung akhlak jundiyah sehingga terjaga akhlakul karimah.

Tak bergaul dengan bebas selayaknya orang biasa lantaran kita ini manusia-manusia pilihan yang mampu menjaga pergaulan, tidak longgar dalam bersapaan, dan menjaga adab kesopanan.

Kita menjadi istimewa bukan karena kita luar biasa
Kita menjadi istimewa lantaran hati penuh cahaya
Kita menjadi hebat bukan karena banyaknya bakat
Namun kita menjadi hebat karena orientasi selalu tertuju ke akhirat

Wal akhiratu khairulaka minal ula

Yogyakarta, 28 September 2015 pukul 14.39
(Saat bercakap dengan anakku tentang militansi kader dakwah)