Thursday, March 7, 2019

Ogimi dan Centenarian (Part 1)

sumber: google
Suatu ketika sebuah postingan di Instagram oleh seorang tokoh agama menelisik pikiran saya, caption foto tersebut tertulis tentang sebuah kata yang tidak asing lagi, yaitu IKIGAI. Sepintas pernah melihat kata-kata itu, saya coba googling dan menemukan IKIGAI adalah sebuah konsep dari Jepang yang bermakna alasan untuk menjadi.

Berbekal rasa penasaran tersebut, di lain kesempatan saya mencoba membeli buku yang berjudul IKIGAI,  Rahasia Hidup Bahagia dan Panjang Umur Orang Jepang karya Hector Garcia dan Francesc Miralles. Buku ini menceritakan tentang orang Jepang yang percaya bahwa setiap manusia memiliki ikigai (alasan untuk hidup) yang membuat mereka bahagia dan selalu semangat menjalani hidupnya.

Buku Ikigai merupakan hasil penelitian terhadap rahasia hidup orang Jepang dengan rata-rata usia di atas 100 tahun atau yang biasa disebut centenarian, mereka tinggal di kawasan Zona Biru. Mereka selalu bangun di pagi hari dengan semangat dan aktif bekerja di bidang yang disukai sampai tua tanpa benar-benar "pensiun"- sebuah kosakata yang tidak akan kita temukan dalam bahasa Jepang. Ikigai telah mengantarkan bangsa Jepang masuk dalam deretan manusia dengan rata-rata harapan hidup tertinggi di dunia.

Sebenarnya, banyak orang Jepang tidak pernah benar-benar pensiun. Mereka terus melakukan apa yang mereka sukai selama kesehatan mereka memungkinkan. Tidak ada kata dalam bahasa Jepang yang berarti pensiun dalam artian "Tidak bekerja lagi karena masa tugasnya sudah selesai".

Salah satu kunci ikigai yaitu rasa komunitas yang kuat dan ikigai yang jelas mempunyai nilai sebanding dengan makanan Jepang yang terkenal sehat. Studi terbaru tentang centenarian sebuah pulau kecil di Jepang selatan, yaitu Okinawa dan Zona Biru (wilayah geografis tempat orang hidup paling lama) memberikan sejumlah fakta yang menarik.

Desa Ogimi, merupakan desa yang terdapat di arah utara pulau Okinawa. Desa ini termasuk pemegang rekor Guinness untuk desa berumur panjang. Adalah Misao Okawa (117) yang merupakan salah satu centenarian tertua di dunia yang ada di Okinawa menurut Kelompok Penelitian Gerontology sampai April 2015. Misao meninggal di sebuah fasilitas perawatan di Osaka setelah hidup selama 117 tahun dan 27 hari. Ketika para spesialis bertanya tentang rutinitas perawatan dirinya, Misao menjawab dengan sederhana, "Makan sushi dan tidur".

Ogimi juga dikenal sebagai Village of Longevity. Untuk sampai sampai ke Ogimi, kita harus terbang tiga jam dari Tokyo ke Naha, ibu kota Okinawa.

Bersambung ke part 2, in syaa Allah

Thursday, October 25, 2018

JANGAN TERBUAI, SEGERA MELESAT


Beberapa anak muda yang saya temui, khususnya perantau yang datang ke ibukota, banyak yang menghabiskan penghasilannya untuk entertaiment (hiburan semata) dibanding menyiapkan  dan membangun aset-aset berguna untuk masa depan.

Sewaktu saya melempar opini ini kepada publik, beberapa menjawab atas terjadinya shock culture terhadap mewahnya ibukota. Memang benar, perantau yang datang ke ibukota kemudian melihat segala macam fasilitas transportasi, mall, wisata, gedung-gedung mewah, pastilah mulai tergiur untuk mencicipi semua fasilitas tersebut.

Padahal kami sendiri yang lahir disini juga sedikit gerah dengan kondisi ibukota yang tak kunjung memberikan kepastian ekonomi secara merata. Akhirnya kami lebih memilih untuk bersegera memanfaatkan kesempatan yang ada untuk membangun bisnis, komunitas yang sifatnya untuk keberlangsungan dan ketahanan ekonomi.

Yang mungkin saya sayangkan adalah, ketika para kawan-kawan yang sudah merasakan bekerja di ibukota dan mulai menghasilkan, mestinya kesempatan ini dipakai sebaik-baiknya untuk membangun dan berkontribusi untuk negeri, jangan sampai terlena dengan kemewahan ibukota yang akhirnya membuat kita terjebak pada menjadi karyawan selamanya dan menghabiskan uang kita pada hal yang sia-sia.

Minna san, mari menjadi pemuda yang bisa melihat potensi dan peluang dan menularkan semua itu pada masyarakat dan sekitar kita, agar terjadi perbaikan yang signifikan untuk negeri ini. Mari gunakan penghasilan kita untuk kita kembali berinvestasi kepada apa dahulu kita diinvestasikan. Kurang layak sepertinya jika seorang aktivis, kemudian tenggelam pada hal-hal yang bersifat fana, mestinya visi keabadian harus tetap terpatri di dalam diri.

Ingat, mimpi kita masih panjang, ditengah ketidakpastian (uncertainty) ini, tetapi harapan kita masih ada untuk berkontribusi untuk negeri. Marilah manfaatkan kesempatan yang kita punya untuk melihat jeli setiap peluang, bersungguh-sungguh dalam mengejar mimpi, dan tidak terlena dengan godaan yang menjauhkan pada visi besar kita dan tetap untuk mencintai ummat dan bangsa ini ketimbang memuaskan dan memenuhi kepentingan pribadi semata.

Allahualam

INDONESIA IS A POTENTIAL




Perkembangan teknologi dan ekonomi di tanah air membuat saya sedikit terpanah dan mulai sedikit demi sedikit mempelajari gerak dan lajunya. Salah satunya, ialah bidang teknologi atau startup yang banyak digandrungi dan di inisiasi oleh anak muda Indonesia. Saya akan menjelaskan sedikit mengapa Indonesia dapat dikatakan potensial dalam rangka invention (menemukan) temuan-temuan baru, yang bisa saja mendunia.

Sewaktu saya mendatangi acara Tech in Asia Jakarta 2018 kemarin, saya banyak melihat potensi-potensi anak bangsa yang menjelma menjadi sebuah bisnis/aplikasi, tidak hanya sekedar ide, tetapi applicable.

Dalam sebuah main stage diacara tersebut saya melihat beberapa pembicara dengan jenis startup yang berfokus pada bidang agriculture. Beberapa contohnya yaitu pada sektor pertanian, perikanan, dan pengembangan pedesaan. Dan fokus saya tertuju pada satu sektor yaitu perikanan. Startup tersebut berhasil menjelma menjadi salah satu startup sektor perikanan yang sukses, bahkan ditingkat internasional.

Beberapa waktu lalu kita tidak mungkin tidak terlalu peduli dengan sektor tersebut, padahal sektor agriculture merupakan sektor yang mempunyai masalah paling banyak di Indonesia, tetapi disaat yang bersamaan mempunyai potensi yang paling besar juga. Bagaimana tidak? dari agrikultur tersebut segala macam kebutuhan sekunder (pangan) berasal, yang mana kita tahu saat ini, Pangan/Food menjadi isu strategis global.

Saya jadi berpikir, sebuah negara yang besar, kepulauannya banyak, beragam ras dan bahasa, serta disebut sebagai zamrud khatulistiwa, terlebih pada potensi maritimnya yang luar biasa, bisa-bisa panjang jika saya jelaskan disini. Mestinya potensi ini menjadi sebuah jawaban dari segala permasalahan global seputar pangan dan sebagainya. Tetapi nyatanya tidak, Indonesia masih belum bisa mengelola semua anugerah ini.

Melihat kondisi demikian, maka saya berpikir lagi, Indonesia mempunyai segudang masalah, tetapi disaat yang bersamaan segudang masalah itu adalah sebuah potensi! Ya betul, potensi. Sesiapa bisa menyelesaikan permasalahan salah satu sektor strategis di Indonesia, maka ia bisa menyelesaikan permasalahan yang serupa di negara lain!

Kira-kira begitu yang terlintas dalam bentak saya tentang dahsyatnya potensi Indonesia dalam menjadi wadah pilot project ketahanan global.

Nah, minna san. Jika kita menjadi warga Indonesia, jangan bingung lagi tentang apa yang harus kita perbuat, segala macam masalah (beserta opportunity nya) juga tersaji di negeri kita sendiri. Saya percaya setiap kita mampu menjadi problem solver atas permasalahan-permasalahan yang terjadi di negara kita ini. Dan suatu saat nanti, saya percaya, negeri ini akan banyak melahirkan inventor-inventor yang mampu memberi solusi pada permasalahan global.