Wednesday, August 9, 2017

Jalu Motor



Syukur alhamdulillah kepada Allah SWT kita masih diberikan nikmat Islam, Iman dan Sehat. Dengan nikmat inilah seharusnya manusia banyak menggunakannya sebaik-baiknya, mengoptimalkan se optimal-optimalnya, agar dapat mensyukuri nikmat Allah tersebut.

Kulsap kali ini masih seputar orang, akhlak, dan sepeda motor.

Saya bersyukur sekali kepada Allah masih diberikan kesempatan untuk melihat hal-hal yang sepele yang kemudian dapat diresapi untuk dijadikan sebuah pelajaran berharga. Setiap episode kehidupan ini selalu mengandung akan makna dan memberikan insight baru bagi saya.

Sudah sering kali saya sebagai pengendara sepeda motor menggunakan motor dalam keseharian. Mulai dari ketempat kerja, kampus, jemput-jemput, perbelanjaan, dan lain-lain. Bersepeda motor yang lekat sebagai aktivitas harian membuat saya agak semakin detail dengan sepeda bermesin ini.

Sebagaimana yang kita ketahui, sepeda motor memiliki dua buah jalu sebagai pijakan penumpang yang di bonceng di belakang. Nah yang saya ingin sedikit bahas disini mengenai hal simpel, yaitu jalu.

Seringkali, seseorang pengendara sepeda motor yang membonceng orang dibelakangnya, setelah memarkirkan sepedanya, ia lupa untuk melipat kembali jalunya. Walhasil, jalu tersebut kembali memakan volume/ruang parkir sebelahnya. Pada saat sebuah motor baru mau parkir disebelahnya, mereka kesulitan memasukkan sepeda motornya, jawabannya tentu jelas karena jalunya. Akhirnya seorang pengemudi tersebut harus bantu melipatkan dulu jalu sepeda motor yang sudah parkir duluan, baru sepeda motor pengendara tersebut bisa masuk. Atau yang sering terjadi, kaki pengemudi motor yang mau memarkirkan motornya, terpentok jalu tersebut, dengan kata lain jalu tersebut seringnya melukai dan menyusahkan orang lain.

Mungkin Anda berpikir ini hal biasa, sepele dan penting untuk dibahas, bahkan dijadikan kulsap. Tetapi jika kita perhatikan, ini masuk ke dalam kategori perbuatan yang sarat akan akhlak. Bukankah Islam mengajarkan kepada kita untuk tidak menyakiti sesama muslim?

By the way, waktu di kampus saya pernah mendapat buku panduan mentoring. Isinya 10 Muwasofat Tarbiyah. Salah satunya ada namanya Matinul Khuluk. Dan disana dirinci kebiasan-kebiasan akhlak yang baik bagi seorang muslim. Jika bisa, saya pingin sekali menambahkan poin "Melipat jalu sepeda motor setelah memarkirnya"

Teman-teman sekalian, mungkin lintasan pikiran (insight) ini yang ingin saya berbagi dengan teman-teman. Mohon maaf kiranya hal kecil ini terlihat seperti dibesar-besarkan. Tetapi saya kira, seorang muslim yang peka dan peduli terhadap akhlak, bahkan hal sekecil ini, ia akan menjadi tetangga yang mendamaikan dan saudara yang meneteramkan.

Wallahu a'lam bishawab

Monday, July 10, 2017

Sen Tangan

Sumber: google.com

Hampir setiap mengendarai sepeda motor, selalu saja saya mengalami fenomena ini. Fenomena apa itu? sebuah fenomena dimana kendaraan bermotor jika ingin berbelok, mereka melakukan secara tiba-tiba dan parahnya kode yang mereka pakai untuk berbelok menggunakan tangan.

Fenomena ini sekilas saya sebut dengan "Sen Tangan". Baru tadi siang sewaktu mengendarai sepeda motor disekitar daerah Pondok Gede, di depan ada motor yang tiba-tiba berbelok ke kanan, tanpa menggunakan sen, tetapi menggunakan tangan kanannya sebagai tanda bahwa ia akan berbelok. Saya yang berada di belakangnya otomatis kaget bin kagok. Untuk aja reflek cepat waktu itu, kalau tidak, bisa-bisa nabrak deh.

Fenomena Sen Tangan ini agaknya sudah marak di negeri kita. Terlebih kota besar yang ada di Jabodetabek, hampir setiap saat kita dapat menemuinya dengan mudah dijalan-jalan. Terkadang tangan ibu-ibu lah yang di kepak-kepakan seperti sayap, terkadang tangan anak kecil, dan bahkan parah -dan tidak sopannya- ada yang menggunakan kaki sebagai tanda bahwa ia akan berbelok. Ckckck.

Saya berpikir, Lalu buat apa sen dipasang di motornya? apa menggunakan sen itu begitu sulit dan membutuhkan banyak bensin dan karena bensin mahal? Dan saya yakin, pihak produsen motor tersebut sudah benar-benar memastikan bahwa kebutuhan untuk belok itu membutuhkan tanda jadi dibuatlah sen, tetapi faktanya masih saja ada yang menggunakan tangan. Bukankah itu malah bahaya? ckckck.

Itu baru satu fenomena yang ada di negeri kita ini. Ada lagi yang lain, misal begini, ada seorang ibu dan anaknya -masih kecil- berjalan bersama -berduaan- di pinggir jalan raya. Kita tahu, bahwasanya orang dewasa wajib membuat anak kecil se save mungkin waktu dijalan. Tetapi kadang faktanya, mereka berdua berjalan disebelah kiri, kemudian sang ibu menggandeng anak dengan tangan tangan -mungkin karena terbiasa dengan tangan kanan-, otomatis sang anak berada lebih dekat dengan jalan raya dan rawan keserempet motor dan mobil. Pada posisi ini sang ibu nya malah yang save dan sang anak yang dalam posisi bahaya. Hello, masihkah kita belum nyadar akan hal ini ?!

Ada lagi, disebuah daerah ada tulisan "Dilarang Buang Sampah". Tapi di bawah plang tulisan tersebut, berserak buaannyaakk suampaahh. Ini sih namanya kalau dalam bahasa dunia ADK, kaburo maghtan! mengatakan tapi tidak mengerjakan. Atau dalam dunia profesional namanya tidak berIntegritas! Nah lho!

Itu sekelumit kegelisahan yang saya alami beberapa waktu terakhir ini. Dan masih banyak lagi. Tetapi fenomena ini membuat saya jadi termenung di jalan, berpikir lebih -deep thinking- hingga sampai ke rumah. Sebegitu masih besarnya PR untuk SDM di negeri kita ini. Kemudian saya menimbang-nimbang asa Indonesia mencapai marotibul amal yang ke empat, pembebasan dari asing. Kemudian saya merenung, berapa lama lagi akan tercapai ya? Allahualam ternyata memang masih jauh. Tugas kita hanya berbenah dan berkontribusi menjadi bagian darisana.

Semoga tulisan ini menjadi pelecut semangat kita untuk senantiasa berbenah diri, bersiap dan mempersiapkan diri menjadi Anashir Attaghyir nya muslim di Indonesia. Agar kebangkitan Islam di negeri kita -minimal keluarga dan masyarakat kita- dapat tegak dan kita menjadi bagian daripadanya. Allahualam bisshawab..

Wednesday, November 9, 2016

SUDUT PANDANG KITA




Dalam sebuah serial anime Naruto, salah satu  pemeran tokoh Akatsuki, Deidara, pernah mengatakan “hidup itu adalah seni meledakkan”, sebagian besar orang juga sering mengatakan bahwa “hidup itu adalah seni memilih”. Setiap orang tentu berhak untuk berpendapat terkait kehidupan ini. Semua terserah kepada siapa yang mengatakan, apa yang dikatakan, dan kepada siapa hal tersebut ditujukkan. Asalkan selama tetap dalam koridor Hak Asasi Manusia, semua itu sah-sah saja.

Dewasa ini, hidup kita selalu diruwetkan dengan berbagai pilihan-pilihan. Baik itu pilihan-pilihan strategis, taktis, umum, sampai yang tidak penting sama sekali. Coba bayangkan, baru saja kita bangun dari tidur kita sudah dihadapkan dengan (minimal) dua pilihan, membuka handphone atau membaca doa (?). Jika kita memilih membuka handphone, akan muncul beragam pilihan lagi, akankah kita membuka Whatsapp, IG, Facebook, Message, dan lain-lainnya. Semisal kita membuka WhatsApp, akan banyak sekali menu chat yang tersedia untuk dibaca. Puluhan chat berstatus hijau bertanda belum terbaca. Dan tentu, aktivitas selanjutnya kita harus memilih, chat mana yang harus kita baca terlebih dahulu?. Dan darisitu akhirnya kita harus memilih, dan saya yakin setiap hal yang kita jatuhkan pilihan atasnya terdapat konsekuensi atasnya.

Kembali dalam pillihan, hidup kita berkelana dalam sebuah pilihan-pilihan. Dalam konteks general, sebenarnya kita hanya di hadapkan oleh dua pilihan, pilihan baik atau pilihan buruk. Masing-masing penjabaran dari kedua itu banyak dan panjang sekali, tergantung sikap kita untuk menilai dan memilah mana yang kemudian masuk ke dalam pilihan baik atau pilihan buruk. It’s up to you!

Pilihan, selain terkategorikan dalam perihal aktivitas, kata memilih juga termasuk ke dalam kata kerja. Ada satu hal yang ingin saya kaitkan dengan perihal pilihan (atau memilih) ini, yaitu tentang pandangan, atau lebih tepatnya, sudut pandang. Dalam sebuah acara pacuan kuda, setiap kuda-kuda pelari yang siap dilombakan dalam pacuan tersebut dipakaikan kacamata. Konon kabarnya, ketika seekor kuda dipakaikan kacamata tersebut, fokus berlarinya akan linier, titik fokus ke depannya begitu runcing, dan tidak akan tergubris oleh pemandangan kanan dan kirinya.

Ada sebuah kisah menarik yang saya kutip dalam salah satu karya ustad Salim. A Fillah. Kisah ini dapat menjadi sebuah tes ramalan tentang bagaimana kita memandang sebuah keadaan atau kondisi, baik diri sendiri, maupun kondisi orang lain.

Suatu sore mungkin kita menyaksikan seorang lelaki, ikut antri di warung pecel lele di daerah Monjali. Mendung bergantung sore itu, dan warna hitam yang menyeruak di barat mulai bergerak mendekat. Dia, berkaos putih yang leherannya mulai geripis, di kepalanya ada pecis putih kecil, dan celananya beberapa senti di atas mata kaki. Sandal jepit swallow yang talinya hampir putus nyangkut di antara jempol dan jari kakinya. Seperti yang lain ia juga memesan, “Pecel Lele, Mas!”

“Berapa?”, tanya Mas penjua yang asyik menguleg sambal terasi sambil sesekali meraih sothil besar untuk membalik gorengan lele di wajan raksasa. Gemuruh bunyi kompor mengharuskan orang bicara sedkit lebih keras.

“Satu. Dibungkus...” Perlahan tangannya merogoh saku celana, lalu duduk sembari menghitung uangnya. Malu-malu, tangannya dijorokkan sedikit ke bawah meja. Uang pecahan ratusan yang sudah disatukan dengan selotip bening per sepuluh keping, pas jumlahnya sesuai harga.

“Nggak makan sini aja Mas? Takut keburu hujan ya?”

“Hi hi, buat isteri..”

“Oo..”

Selesai pesanannya di bungkus, bersamaan dengan bunyi keririk yang mulai menggambar titik-titik basah di tenda terpal milik Mas Pecel Lele. Agak berlari ia keluar, tetapi melebatnya sang hujan jauh lebih cepat dari tapak-tapak kecilnya. Khawatir pecel lele untuk isteri tercinta yang hanya dibungkus kertas akan berkuah, ia selipkan masuk ke perutnya. Bungkusan itu ia rengkuh erat dengan tangan kanan, tersembunyi di balik kaos putih yang mulai transparan disapu air. Tangan kirinya ke atas, mencoba melindungi kepalanya dari terpaan ganas hujan yang tercurah memukul-mukul. Saat itu ia sadar, ia ambil pecisnya. Ia pakai juga untuk melapisi bungkusan pecel lele. Huff, lumayan aman sekarang. Tetapi 3 kilometer bukanlah jarak yang dekat untuk berjalan ditengah hujan, bukan?

Bagaimana perasaan kita ketika memandang peristiwa lelaki tersebut? Kasihan, iba, miris, sedih.

“Itukan Anda!” tegas ustad Salim menjawab. “Coba tanyakan kepada lelaki itu, kalau anda bertemu. Oh sungguh berbeda. Betapa berbunga hatinya. Dadanya dipenuhi heroisme sebagai suami baru yang penuh perjuangan untuk membelikan penyambung hayat isteri tercinta” lanjutnya.

Sidang pembaca yang terhormat, dalam hidup ini kita memang dipersilahkan untuk memilih berbagai sudut pandang, tetapi karena kita dipersilahkan bebas untuk memilih, seharusnya kita akan menjatuhkan pilihan pada sudut pandang yang jernih. Kita dapat bayangkan, bagi orang awam, kondisi laki-laki diatas adalah kondisi yang mengenaskan, tetapi kenyataan yang dialami oleh lekaki tersebut malah berkebalikannya! Heroisme menghujam dalam dadanya.

Jika ada seseorang yang merasa iba kepada saudaranya yang sedang memangkul amanah yang besar, dan terus mengatakan “kasihan ya”, boleh jadi apa yang dirasakan oleh orang yang memikul amanah itu malah sebaliknya. Paradigma kita dalam memiih sudut pandang agaknya perlu untuk di jernihkan kembali.

Beberapa hari yang lalu, ratusan ribu bahkan mencapai jutaan umat Islam melakukan aksi damai di Jakarta. Ada yang jauh-jauh datang dari pelosok daerah, belasan jam berjalanan bahkan ada yang 24 jam perjalanan. Mungkin bagi sebagian orang, melakukan hal itu termasuk hal bodoh, tetapi coba anda tanyakan kepada para peserta aksi tersebut, saya yakin jawaban mereka akan sama, mereka senang telah menjadi bagian dari para pembela Al-Quran!

Dalam hidup, mari pilahlah dengan hati-hati pillihan sudut pandang kita, boleh jadi selama ini pandangan kita terkaburkan oleh sempitnya wawasan kita, atau terbiaskan oleh ketidakpekaan nurani kita. Cobalah untuk melepas kaca mata kuda yang mungkin sempat menempel di wajah kita, mulailah untuk mengambil angle terbaik ketika kita memandang sesuatu, setelahnya kita akan melihat sisi lain yang jauh lebih mempesona dari pemahaman yang selama ini kita fahami.

Saturday, May 7, 2016

Review Buku Bushido, The Soul of Samurai



Saya percaya, masa kecil kita akan menentukan pembentukkan karakter diri dimasa yang akan datang, teman-teman percaya? i hope so.

Hidup dalam masa kanak-kanak pada tahun 2000an tentu memiliki cita rasa tersendiri, terlebih pada sebuah tayangan hiburan oleh Jepang yang diputar disetiap sorenya, yup, apalagi kalau bukan anime! Ternyata, -bagi saya- anime sedikit banyak memberikan motivasi positif kepada diri. Tentu tidak semua anime, dan beberapa anime saja yang seperti ini. Salah satunya adalah berjudul Samurai X, dengan tokoh utama adalah Kenshin Himura.

Berbicara tentang samurai, atas kegagahan dan sikap kekesatriannya, disini saya akan sedikit mereview buku yang berjudul Bushido, The Soul of Samurai -jalan kebijaksanaan para kesatria Jepang- yang ditulis oleh Inazo Nitobe, Ph.D (Ekonom & Diplomat Jepang)

Pertama kita akan mengupas pengertian dari Bushido, bagi para samurai Bushido digunakan sebagai sistem etika, bagi negara Jepang, sikap kesatria adalah bunga yang sama aslinya seperti bunga nasional mereka, sakura. Sikap kesatria masih menjadi kekuatan dan keindahan yang hidup di antara para samurai, dan meskipun tidak dianggap sebagai bentuk yang nyata, tetapi atmosfer bushido masih sangat terasa dan berpengaruh kuat.

Di Jepang, sebagaimana juga di Eropa, saat feodalisme secara resmi diperkenalkan, kelas kesatria langsung menjadi terkenal. Mereka adalah orang-orang yang dikenal sebagai samurai, artinya hampir mirip dengan kesatria dalam bahasa Inggris kuno (knecht, knight), penjaga atau pengawal. Seorang samurai di Jepang adalah kelas masyarakat yang istimewa. Kelas ini muncul begitu saja, selama masa perang berlangsung cukup lama, dari kelompok pria paling jantan dan paling pemberani, dan selama prosesnya terjadi eliminasi, pria-pria yang lemah dan penakut tersingkir, dan hanya menyisakan pria-pria tangguh, maskulin, dengan kekuatan brutal.

3 (dari 7) Prinsip Bushido:

1. Kejujuran atau Keadilan
Kejujuran atau Keadilan ini merupakan ajaran paling meyakinkan dalam kode samurai. Tidak ada yang lebih memuakkan bagi samurai daripada tindakan curang dan kebohongan. Seorang bushido mendefinisikannya sebagai kekuatan resolusi: "Kejujuran adalah kekuatan untuk memutuskan tindakkan tertentu sesuai dengan alasan, tanpa kebimbangan.. untuk mati jika hal yang benar adalah mati, untuk menyerang jika tindakan yang benar adalah menyerang"

Pada masa saat kelicikan diandalkan untuk taktir militer dan kebohongan untuk taktik perang, sifat-sifat kejujuran dan keterusterangan menjadi permata yang bersinar paling terang dan diharga paling tinggi. Sifat kejujuran atau keadilan ini juga dapat di sebut dengan Giri (Alasan yang benar). Pada dasarnya Giri memiliki arti tidak lebih dari tanggung jawab, Giri diformulasikan dengan sebuah alasan tindakkan kenapa kita bergerak, biasanya alasan seorang bergerak adalah karena cinta, jika bukan karena cinta, maka seorang diharuskan mencari alasan untuk meyakinkan dirinya akan pentingnya bertindak benar. Itu sebabnya, memahami Giri adalah tugas yang sangat berat, seperti memaksa pemalas untuk menjalankan tugas dengan sapu lidi.

2. Keberanian, Jiwa Pemberani, dan Pembawaan Diri
Jika definisi keberanian hanyalah melakukan apa yang benar, menerjang segala jenis bahaya, mempertaruhkan diri sendiri, menerobos rahang kematian, maka keberanian atau keperkasaan itu -seperti yang disebut oleh Shakespear- adalah keperkasaan yang keliru.

Begitu juga dengan aturan kekesatriaan, kematian yang disebabkan oleh alasan konyol disebut sebagai "kematian anjing"

"Tergesa-gesa terjun ke medan pertempuran sengit dan terbunuh disana, sangatlah mudah, dan penduduk desa sekalipun bisa melakukannya. Tapi, butuh keberanian sejati untuk hidup saat ha yang benar untuk dilakukan adalah hidup, dan untuk mati saat hal yang benar untuk dilakukan adalah mati"

Keperkasaan, ketabahan, tak kenal takut adalah sifat jiwa yang paling mudah menarik pikiran para pemuda. Semua sifat itu juga dilatih melalui pelatihan dan contoh. Semuan sifat itu juga menjadi sifat yang paling populer dan bisa ditiru pemuda sejak dini. Jika ada seorang anak laki-laki menangis karena sakit, sang ibu akan menegurnya dengan cara seperti ini: "Sungguh pengecut menangisi rasa sakit yang tidak seberapa! apa yang akan kau lakukan jika lenganmu terpotong dalam pertempuran? kesalahan sebesar apa yang kau butuhkan untuk berani melakukan harakiri?"

Orang tua dengan ketegasan yang terkadang mengarah pada kekejaman,menyiapkan anak-anak mereka untuk tugas yang membangkitkan semua keberanian yang aa di dalam diri mereka. Putra seorang samurai ditinggalkan di lembah dalam yang penuh dengan kekerasan, dan harus menjalankan tugas berat. Sesekali kehabisan makanan atau kedinginan, tapi semua itu diaggap sebagia ujian ampuh untuk melatih ketahanan diri mereka.

Anak-anak sejak usia muda sudah dikirimkan ke tempat asing untuk menyampaikan pesan, dipaksa bangun sebelum matahari terbit, dan harus mengikuti kelas membaca sebelum sarapan, berjalan menghampiri guru mereka dengan bertelanjang kaki di tengah musim dingin yang menusuk, datang bersama dalam kelompok kecil melewati malam tanpa tidur, membaca secara bergantian dengan suara lantang.

Berziarah ke semua tempat yang tidak biasa -tempat eksekusi, ke kuburan, ke rumah yang diketahui dihantui makhluk hakus- enjadi aktivitas senggang favorit anak-anak muda dari para samurai. Pada masa ketika pemenggalan dilakukan di depan umum, anak lelaki kecil bukan hanya dikirim untuk menyaksikan adegan mengerikan tersebut, tapi mereka juga dipaksa untuk datang sendirian ke tempat itu pada tengah malam dan meninggalkan bukti kedatangan mereka di kepala yang terpenggal lepas dari tubuhnya.

Itu adalah sistem super-Sparta yang mungkin akan merusak dan menghancurkan secara brutal emosi lembut hati anak-anak. Berbeda dengan bushido, aspek spiritual dibuktikan dengan ketenangan-ketenangan pikiran. Ketenangan adalah keberanian yang sedang beristirahat. Itu merupakan manifestasi statis dari keberanian, sementara tindakan berani merupakan manifestasi dinamisnya.

Orang yang benar-benar pemberani adalah orang yang selalu tenang; tidak pernah terkejut, tidak ada yang bisa mengusik ketenangan jiwanya; ditengah pertempuran yang sengit, ia tetap tenang; ditengah bencana dashyat, ia menjaga pikirannya tetap jernih. Gempa bumi tidakmemmbuatnya terguncang, ia menertawai badai yang menghadang.

Kita mengaguminya sebagai orang yang benar-benar hebat, yang di tengah ancaman bahaya dan kematin, masih bisa mmepertahankan ketenangan dirinya; yang misalnya saja, bisa menulis puisi di bawah tekanan bahaya atau bersenandung di hapadan kematian. Kemampuan untuk tidak menunjukkan ketakutan dalam tulisan atau dalam suara, dianggap sebagai bentuk sempurna dari luasnya pikiran, yang meskipun ditekan atau dipadatkan, selalu ada ruang untuk sesuatu yang lain.

Itu sebabnya dalam peperangan kuno bukan sesuatu yang langka jika pihak yang berkonflik saling bertukar jawaban yang mengena atau memulai kontes retorika. Pertarungan bukan sekedar masalah kekuatan brutal, tapi juga keterlibatan intelektual.

3. Kebajikan dan Perasaan Sedih
Saat keberanian mencapai ketinggian ini, maka keberanian itu menjadi sama dengan Kebajikan, Perasaan Sedih, cinta, kemurahan hati, rasa sayang pada orang lain, simpati, dan kasihan, yang dianggap sebagai sifat-sifat terbaik, yang tertinggi dari semua sifat manusia.

Kebajikan  adalah sifat yang memiliki dua sisi, yang diutamakan di antara sifat ang harus dimiliki oleh bangsawan; diutamakan untuk orang yang berkedudukan tinggi dan bahwa belas kasihan lebih berharga dari mahkota, bahwa belas kasihan lebih tinggi dari ayunan tongkat kerajaan.

Kebajikan adalah akar, dan kekayaan merupakan hasil panennya. Selain itu tidak pernah ada kasus tentang kedaulatan yang mengalahkan kebajikan, dan orang tidak menyukai kebenaran.

Kita tahu bahwa kebajikan adalah nilai yang lembut dan penyayang layaknya seorang ibu. Jika Kejujuran dan Keadilan terkesan maskulin, Belas Kasih memiliki kelembutan dan pengaruh feminim.

Untungnya, Belas Kasih bukan hanya indah tapi juga tidak terlalu langka, karena ungkapan ini sangat benar bahwa "yang paling berani merupakan yang paling lembut, yang paling penyayang merupakan yang paling berani" sebutannya Bushi no nasake (kelembutan seorang kesatria).

Tetapi bukan berarti belas kasih seorang samurai sangat berbeda dengan belas kasih makhluk lain, tapi karena belas kasih itu berkaitan dengan keadilan dan belas kasih itu didukung dengan kekuatan untuk menyelamatkan atau membunuh.

Pada prinsipnya, para samurai juga mengatakan bahwa perasaan sedih adalah akar dari kebajikan, itu sebabnya orang yang bijak selalu memikirkan mereka yang menderita dan sedih.

Dalam pertempuran Sumano-ura (1184 M), yang merupakan salah satu kejadian paling suram dalam sejarah Jepang, seorang penunggan gkuda itu nengalahkan musuhnya dan hanya dalam sekali serangan berhasil menaklukkan lawannya. Etika perang sekarang menegaskan tidak boleh ada darah yang ditumpahkan, kecuali pihak yang lebih lemah terbukti memiliki posisi atau kemampuan yang setara dengan lawannya. Si penunggang kuda yang menang diberitahu nama orang yang dikalahkannya, tapi ia menolak mengumumkannya, helm pihak yang kalah terlepas dan saat melihat wajah seorang pemuda yang masih plos dan bersih, sang kesatria penunggang kuda mengendurkan cengkraman udanya pada leher pemuda itu. Setelah membantu pemuda  itu berdiri, dengan nada suara kebapakan sang kesatria penunggang kuda meminta pemuda itu pergi, "Pergilah, pangeran muda, ke sisi ibumu! Pedang Kumagaye tidak akan pernah ternodai oleh darahmu. Cepatlah pergi sebelum musuhmu datang!"

Pemuda itu menolak pergi dan memohon pada Kumagaye, demi kehormatan mereka berdua, untuk membunuhnya di tempat itu juga. Diatas kepala sang kesatria berkilau mata pedang yang tajam, yang sebelumnya telah banyak merenggut nyawa musuhnya, tapi hati kesatria itu tergerak; di dalam mata batinnya berkelat sosok putranya sedniri, yang di saat yang bersamaan sedang pergi berperang untuk menguji kemampuannya sebagai pemula. Tangan kokoh sang kesatria bergetar; sekali lagi ia memohon pada korbannya untuk pergi dan menyelamatkan diri.

Mengetahui bahwa semua permohonannya sia-sia dan ia juga mendengar suara langkah rekannya yang datang mendekat, sang kesatria berseru, "Jika kau tertangkap, kau mungkin akan jatuh ke tangan orang yang lebih tercela daripada aku. Oh, Tuhan yang Abadi! Terima jiwanya!"

Dan seketika itu juga pedang menebas udara, dan saat diturunkan lagi pedang itu sudah merah oleh darah kedewasaan. Saat perang berakhir, para prajurit pulang dengan membawa kemenangan, tapi sang kesatria tidak peduli sedikit pun dengan kehormatan atau kemasyhuran, ia meninggalkan karier berperangnya, mencukur rambutnya, mengenakan pakaian pendeta, mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk melakukan perjalan suci, tidak pernah membalikkan punggungnya ke Barat, di mana terdapat surga, dimana keselamatan datang dan ke mana matahari bergerak dengan cepat setiap hari.

Dua Momentum


Bismillahirahmanirrahim..

Bulan itu adalah bulan yang cukup padat bagi seorang pemuda yang baru menginjakkan usianya di angka dua puluhan. Bagaimana tidak? undangan walimatul ursy berdatangan setiap waktunya dan bertengger rapih hampir di setiap jadwal akhir pekanan. Akhir pekan yang biasanya di habiskan dengan aktivitas lain, setelah menjadi mahasiswa tingkat akhir, maka seketika itu aktivias pekanan berubah haluan, menjadi peserta disetiap undangan walimahan, tentu lebih banyak undangan dari kakak kelas, bukan yang seangkatan.

Waktu itu saya menghadiri salah satu undangan walimatul ursy di luar kota Malang. Seperti biasanya, bersama dengan teman-teman menggunakan mobil sewaan berangkat malam hari agar sampai di tempat acara tepat waktu pada pagi hari di keesokan harinya. Tentu yang kita kejar adalah akad, tidak sekedar datang resepsi.

Selama perjalanan di tengah pekatnya malam, -kebetulan saya waktu itu duduk di depan, mendampingi teman saya yang sebagai supir saat itu- saya merenung, mengingat-ingat wajah kakak kelas saya yang sepertinya baru saja kemarin bercengkrama bareng-bareng dan sekarang dia sudah akan menggenapkan separuh agamanya, memulai kehidupan yang lebih serius lagi, tentu dengan segudang tanggung jawab yang lebih besar, apalagi kalau bukan ta'winu baitim muslim, membentuk keluarga yang Islami.

Dalam sebuah perenungan di tengah perjalanan tersebut, saya ingat beberapa kajian dan buku-buku tentang pentingnya menyiapkan diri untuk pernikahan, mulai dari fikriyah, jasadiyah, ilmu, mal, dan lain sebagainya. Kemudian pikiran saya menerawang kepada sosok-sosok pemuda yang rela mati-matian menyiapkan segala hal yang terbaik untuk menyambut pernikahannya. Tentu, mereka adalah orang-orang yang kemudian selalu serius dalam menyiapkan amal-amalnya, selalu berbuat ihsan dalam mempersembahkan amal terbaik.

Saat masih merenung dalam sebuah pekatnya malam, tetiba sebuah inspirasi itu datang, Allah hadirkan dalam bentuk perenungan komparasi dengan hal lain, yaitu kematian.

Ketika itu pikiran saya hampir tersentak, akan sebuah kata dari kematian. Saya berfikir, pernikahan itu misteri, dan adalah langkah yang baik jika mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk pernikahan. Tetapi di satu sisi, saya juga berfikir, bahwa kematian itu pasti, lebih pasti bahkan, sehingga persiapannya seharusnya harus lebih matang dan serius lagi!

Ikhwatifillah, ada dua momentum dalam hidup kita, yang perlu kita siapkan sedang sematang-matangnya persiapan, yaitu pernikahan dan kematian. Bukanlah sebuah hal yang bijak jika memberikan porsi yang lebih besar kepada salah satunya dan meremehkan salah satunya, kedua-duanya adalah momentum yang harus dijaga keseriusannya, dalam niatnya, dalam persiapannya, dalam amal-amalnya.

Akan ada dua momentum dalam hidup kita, pernikahan dan kematian. Yang satu mungkin akan membuat kita tersedu haru, penuh syukur saat kita melaksanakannya, yang satu mungkin akan membuat kita tersenyum lebar atau -naudzubillah- menangis tersedak-sedak karena kurang mempersiapkannya.

Mari, pesiapkan dengan sebaik-baiknya, disetiap momen-momen besar dalam hidup ini, sehingga kelak, tidak ada rasa penyesalan dalam diri ini, karena kita sudah berikhtiar sejak dini, semampu diri, tentu, dalam rangka menggapai ridho illahi.