Sunday, April 7, 2019

#LifeJourney 01: SAKURA DAN PENGUPAYAAN CINTA




"Bahwa cinta bukanlah gejolak hati yang datang sendiri melihat paras ayu atau jenggot rapi. Bahwa, sebagaimana cinta kepada Allah yang tak serta merta mengisi hati kita, setiap cinta memang harus diupayakan. Dengan kerja, dengan pengorbanan, dengan air mata, dan bahkan darah"
-Jalan Cinta Para Pejuang-

Kita tidak akan pernah tahu, alur dan skenario milik-Nya yang membuat kita sampai pada tahap ini. Karena ..

"Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilahkan, yang ini pengorbanan" (SAF)

Dan dibawah naungan bunga sakura yang mulai bermekaran, itu sebagai sebuah isyarat, akan sebuah kerja-kerja keberanian itu yang akan terus tersemai, mekar, dan semakin mekar, in syaa Allah

#8April

Thursday, March 7, 2019

Ogimi dan Centenarian (Part 1)

sumber: google
Suatu ketika sebuah postingan di Instagram oleh seorang tokoh agama menelisik pikiran saya, caption foto tersebut tertulis tentang sebuah kata yang tidak asing lagi, yaitu IKIGAI. Sepintas pernah melihat kata-kata itu, saya coba googling dan menemukan IKIGAI adalah sebuah konsep dari Jepang yang bermakna alasan untuk menjadi.

Berbekal rasa penasaran tersebut, di lain kesempatan saya mencoba membeli buku yang berjudul IKIGAI,  Rahasia Hidup Bahagia dan Panjang Umur Orang Jepang karya Hector Garcia dan Francesc Miralles. Buku ini menceritakan tentang orang Jepang yang percaya bahwa setiap manusia memiliki ikigai (alasan untuk hidup) yang membuat mereka bahagia dan selalu semangat menjalani hidupnya.

Buku Ikigai merupakan hasil penelitian terhadap rahasia hidup orang Jepang dengan rata-rata usia di atas 100 tahun atau yang biasa disebut centenarian, mereka tinggal di kawasan Zona Biru. Mereka selalu bangun di pagi hari dengan semangat dan aktif bekerja di bidang yang disukai sampai tua tanpa benar-benar "pensiun"- sebuah kosakata yang tidak akan kita temukan dalam bahasa Jepang. Ikigai telah mengantarkan bangsa Jepang masuk dalam deretan manusia dengan rata-rata harapan hidup tertinggi di dunia.

Sebenarnya, banyak orang Jepang tidak pernah benar-benar pensiun. Mereka terus melakukan apa yang mereka sukai selama kesehatan mereka memungkinkan. Tidak ada kata dalam bahasa Jepang yang berarti pensiun dalam artian "Tidak bekerja lagi karena masa tugasnya sudah selesai".

Salah satu kunci ikigai yaitu rasa komunitas yang kuat dan ikigai yang jelas mempunyai nilai sebanding dengan makanan Jepang yang terkenal sehat. Studi terbaru tentang centenarian sebuah pulau kecil di Jepang selatan, yaitu Okinawa dan Zona Biru (wilayah geografis tempat orang hidup paling lama) memberikan sejumlah fakta yang menarik.

Desa Ogimi, merupakan desa yang terdapat di arah utara pulau Okinawa. Desa ini termasuk pemegang rekor Guinness untuk desa berumur panjang. Adalah Misao Okawa (117) yang merupakan salah satu centenarian tertua di dunia yang ada di Okinawa menurut Kelompok Penelitian Gerontology sampai April 2015. Misao meninggal di sebuah fasilitas perawatan di Osaka setelah hidup selama 117 tahun dan 27 hari. Ketika para spesialis bertanya tentang rutinitas perawatan dirinya, Misao menjawab dengan sederhana, "Makan sushi dan tidur".

Ogimi juga dikenal sebagai Village of Longevity. Untuk sampai sampai ke Ogimi, kita harus terbang tiga jam dari Tokyo ke Naha, ibu kota Okinawa.

Bersambung ke part 2, in syaa Allah

Thursday, October 25, 2018

JANGAN TERBUAI, SEGERA MELESAT


Beberapa anak muda yang saya temui, khususnya perantau yang datang ke ibukota, banyak yang menghabiskan penghasilannya untuk entertaiment (hiburan semata) dibanding menyiapkan  dan membangun aset-aset berguna untuk masa depan.

Sewaktu saya melempar opini ini kepada publik, beberapa menjawab atas terjadinya shock culture terhadap mewahnya ibukota. Memang benar, perantau yang datang ke ibukota kemudian melihat segala macam fasilitas transportasi, mall, wisata, gedung-gedung mewah, pastilah mulai tergiur untuk mencicipi semua fasilitas tersebut.

Padahal kami sendiri yang lahir disini juga sedikit gerah dengan kondisi ibukota yang tak kunjung memberikan kepastian ekonomi secara merata. Akhirnya kami lebih memilih untuk bersegera memanfaatkan kesempatan yang ada untuk membangun bisnis, komunitas yang sifatnya untuk keberlangsungan dan ketahanan ekonomi.

Yang mungkin saya sayangkan adalah, ketika para kawan-kawan yang sudah merasakan bekerja di ibukota dan mulai menghasilkan, mestinya kesempatan ini dipakai sebaik-baiknya untuk membangun dan berkontribusi untuk negeri, jangan sampai terlena dengan kemewahan ibukota yang akhirnya membuat kita terjebak pada menjadi karyawan selamanya dan menghabiskan uang kita pada hal yang sia-sia.

Minna san, mari menjadi pemuda yang bisa melihat potensi dan peluang dan menularkan semua itu pada masyarakat dan sekitar kita, agar terjadi perbaikan yang signifikan untuk negeri ini. Mari gunakan penghasilan kita untuk kita kembali berinvestasi kepada apa dahulu kita diinvestasikan. Kurang layak sepertinya jika seorang aktivis, kemudian tenggelam pada hal-hal yang bersifat fana, mestinya visi keabadian harus tetap terpatri di dalam diri.

Ingat, mimpi kita masih panjang, ditengah ketidakpastian (uncertainty) ini, tetapi harapan kita masih ada untuk berkontribusi untuk negeri. Marilah manfaatkan kesempatan yang kita punya untuk melihat jeli setiap peluang, bersungguh-sungguh dalam mengejar mimpi, dan tidak terlena dengan godaan yang menjauhkan pada visi besar kita dan tetap untuk mencintai ummat dan bangsa ini ketimbang memuaskan dan memenuhi kepentingan pribadi semata.

Allahualam