Saturday, September 7, 2019

MENCARI "IKIGAI" INDONESIA

Prof. Dr. Fahmi Amhar
Peneliti Utama Badan Informasi Geospasial
Anggota Dewan Pakar Ikatan Alumni Program Habibie.



Ada seorang pejabat tinggi yang gemar bertanya seperti ini, “Kalau kita bicara Korea, kita ingat ponsel merk Samsung atau mobil merk Hyundai. Suatu national brand, yang terbentuk dari riset bermutu yang berkelanjutan. Nah, setelah 74 tahun merdeka, apa riset Indonesia yang telah menghasilkan national brand? Benar kita punya produk-produk yang dikenal dunia. Kita punya Batik. Kita punya Borobudur. Namun itu bukan hasil riset kalian !”

Bagi kami para peneliti, pertanyaan retoris itu terasa seperti perundungan (bullying). Dunia riset itu sangat luas, sebagaimana ragam latar belakang penelitinya. Ada peneliti kebencanaan. Penemuannya tentu saja tidak bisa dijual, diekspor apalagi menjadi national brand. Ada peneliti antropologi kearifan masyarakat adat. Tak ada yang bakal bisa dijual. Kecuali menemukan zat anti kanker seperti pohon Bajakah baru-baru ini. Tapi itu ranah peneliti farmasi, dan jalannya masih panjang. Bahkan peneliti aeronautika di PT-DI dan LAPAN yang sudah berhasil mencipta pesawat N-219 pun, sekalipun berpotensi jadi national brand, jalannya masih sangat terjal dan panjang !

Kemenristekdikti telah membuat Prioritas Riset Nasional (PRN) dan dunia riset suka tidak suka dipaksa mengacu ke sana. Tujuannya agar riset kita bisa fokus, dan ada hasil yang benar-benar bermanfaat untuk negeri ini. Menghasilkan national brand. Benar juga.

Masalahnya, bagi para peneliti sering ada jarak antara lingkaran “Apa saja yang dunia butuh dari kita?” dengan lingkaran-lingkaran “Apa saja yang kita bisa?”, “Apa yang kita suka?” serta “Apa yang kita bisa dapat devisa?”.

Apa yang tertulis di PRN baru memenuhi lingkaran pertama “Apa saja yang Indonesia butuh dari kita”. Dan itu memang tugas para politisi untuk memberikan arah. Adapun lingkaran kedua “Apa saja yang kita bisa?” adalah tugas dunia pendidikan. Dan kita tahu, dunia pendidikan kita belum optimal. Belum semua yang memiliki bakat, mendapatkan pendidikan atau mentor sesuai bakatnya.

Sudah begitu, mereka yang akhirnya menyelesaikan pendidikannya, bahkan sampai jenjang tertinggi, kadang ternyata tidak menyukai dunianya. Mereka akhirnya lebih totalitas dalam menjalankan hobby atau aktivitas sosialnya. Bukan profesinya. Lingkaran “apa yang kita suka” dipengaruhi oleh teladan dari para terkemuka, budaya lingkungan kerja, juga trend pop-culture dunia, . Adalah tugas media massa, budayawan, bahkan rohaniawan untuk memberi arah “apa yang kita suka” bagi bangsa ini pada umumnya, dan para peneliti pada khususnya.

Andaikata para peneliti sudah dididik sesuai bakatnya, lalu bekerja dalam lingkungan kondusif yang dia suka, mengerjakan topik yang memang dibutuhkan Indonesia, masih ada satu lagi persoalan: apakah topik itu benar-benar bisa menghasilkan uang atau devisa, sehingga layak negara berinvestasi di dalamnya?

Pengalaman di masa lalu: Tahun 1995 PT DI meluncurkan pesawat N-250, type yang tepat untuk menghubungkan pulau-pulau di Nusantara saat ini, dikerjakan oleh anak-anak bangsa yang sangat berbakat dan antusias, namun kini harus merana karena tidak laku.

Lingkar terakhir ini ada di tangan para pelaku ekonomi, bahkan sebagian pelaku global. Pada 1998, kita tak kuasa mencegah, ketika George Soros bermain Rupiah di pasar valas yang membuat kita terseret krisis moneter. Saat ini, aturan main kapitalisme global belum berubah.

Irisan keempat lingkaran ini, dalam falsafah Jepang disebut “ikigai”. Di sinilah kita berada di puncak optimal. Untuk konteks Indonesia bisa ditambah satu lagi: “keberkahan”, lingkaran spiritual yang tercermin dalam falsafah bangsa: Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kalau para peneliti Indonesia berhasil menemukan atau ditemukan dengan ikigai-nya, tentu masa depan riset di Indonesia akan lebih cerah.

Politik riset Indonesia telah membuat PRN yang membatasi lingkaran “Apa yang paling dibutuhkan Indonesia saat ini?”. Namun PRN saja, atau dengan penggabungan semua lembaga litbang dalam Badan Riset Nasional, juga pasti belum cukup.
Dunia pendidikan sejak usia dini hingga tinggi sudah saatnya juga menyiapkan kurikulum yang adaptif, yang semua peserta didik mampu memaksimalkan prestasinya, ketika fokus mempelajari sesuatu yang sesuai bakatnya dan juga dibutuhkan Indonesia.

Jangan sampai, mereka kemudian justru “dibajak” negeri asing. Ada banyak negeri dengan iklim riset yang kondusif – dan ini lebih dari sekedar penghasilan yang memadai – membuat mereka betah, merasa diperlukan, dan output mereka pun diakui di seluruh dunia.

Di negara berkembang, orang-orang berbakat istimewa, kadang menjadi tak suka berkarya di sana, ketika melihat budaya kerja hingga atmosfir politik yang kurang bersahabat. Sebagian dari mereka akhirnya sekalian terjun menjadi politisi. Ada juga yang mencari peluang kerja atau usaha yang lebih menjanjikan secara ekonomi. Lainnya memutuskan mencari ladang yang lebih “hijau” di negeri orang. Anehnya, yang terakhir ini kadang akan dihargai lebih tinggi sebagai “diaspora” dibanding rekan-rekannya yang benar-benar berjuang di bumi pertiwi.

Agregasi karya-karya peneliti yang telah mencapai ikigai ini berpotensi membentuk national brand, “Apa saja yang Indonesia bisa”. Tapi agar itu efektif, tentu bangsa ini sendiri mesti menyukainya, baik saat membuat maupun saat memanfaatkannya. Alangkah ganjilnya menjual brand nasional, tetapi sehari-hari menggunakan brand asing. Korea bahkan telah mempromosikan produk teknologinya dengan budaya pop mereka.



Meski Indonesia kini telah 74 tahun, namun sesuai pemeo “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan”, kita pantas introspeksi. Kedewasaan ditandai dengan berpikir luas (multi aspek), mendalam (detil) dan jauh ke depan (visioner).

Berpikir ikigai seharusnya membuat para negarawan merenung, “Apa sebenarnya yang dibutuhkan Indonesia dalam 25 atau bahkan 100 tahun ke depan?”. Lalu “Bangsa ini punya bakat yang bagus di bidang apa saja?”. Juga “Apa yang membuat bangsa ini suka?”. Dan terakhir “Apakah dengan itu bangsa ini akan sejahtera?”.

(Republika, 27 Agustus 2019)

Wednesday, August 7, 2019

#LifeJourney 07: REFLECTION FOR NATION

Merlion, Singapore

Hari itu, saya kembali tersadar, tentang sebuah tanggung jawab dari seorang manusia terhadap negerinya

Perlahan-lahan tapi pasti, Allah mulai bukakan tabir-tabir Nya. Sehingga nampaklah hal yang tak tampak dan tak dirasakan oleh orang pada umumnya.

Tetapi, diri ini kerap mengerti, akan sebuah kerdilnya kapasitas, dan besarnya tembok tebal raksasa yang menghadang.

Berdiri di negeri sendiri, itulah yang selalu terfikirkan, di mulai dari hari yang itu..

Akankah kesempatan itu datang?

Indonesia, harapan itu masih ada

Tuesday, July 23, 2019

#LifeJourney 06: RENUNGAN INDONESIA VS KOREA SELATAN

Seoul Tower Namsan - South Korea 2018

Kondisi ekonomi Indonesia pada umumnya dan global pada khususnya, sedang menjadi topik pembahasan yang hangat. Bagaimana tidak? hampir setiap waktu kita melihat, ekonomi menjadi sebuah dasar atau pondasi dalam kita mengukur setiap keberhasilan kerja pemerintah.

Hal ini sangat wajar, karena dampak yang paling dirasakan dari sebuah negara (atau pemerintahan) yang berhasil menyentuh hati rakyat yaitu ada pada sisi ekonominya. Karena ada istilah dari ekonomi, dari perut naik ke hati. Benarkah demikian?

Anyway, berbicara tentang ekonomi ini sangat menarik sekali menurut saya. Pertama kali semenjak SMA sudah tertarik pada lini ini, walaupun tidak pernah sekolah secara khusus mempelajari hal ini, tetapi rasanya sangat challenging ketika kita berupaya dan berfikir untuk kemajuan sebuah ekonomi, yang dampaknya bisa dirasakan banyak orang.

Berbicara tentang ekonomi, ada sebuah hal yang bisa menjadi renungan bagi kita semua, khususnya orang Indonesia, tentang sejauh apa kita telah melangkah.

Saya menemukan, sebuah grafik perbandingan GPD per kapita antara Indonesia dengan Korea Selatan seperti yang tertera pada gambar dibawah ini.
Perbandingan GDP per kapita Indonesia vs Korea Selatan
47 tahun yang lalu, GDP per kapita Indonesia, pernah menyentuh pada garis horizontal yang sama dengan Korea. Tepatnya dimulai pada tahun 1967 dan menjelang berakhir pada tahun 1972, garis itu masih menyatu. Pada waktu tersebut, kondisi kita sama-sama masih memulai dari nol/awal, tetapi kita bisa melihat lima tahun setelahnya, Korea mulai merangkak naik dan puncaknya menuju 10000 USD pada tahun 1994, tepat saat saya lahir hehe.

Dalam sebuah kajian kenegaraan, pernah disampaikan, bahwa pada waktu itu nilai tukar kita (rupiah) bisa lebih besar dibandingkan dengan nilai tukar won lho. Tetapi jika kita lihat sekarang, 1 won setara dengan 11,88 rupiah (24/07/2019).

Indonesia vs Korsel
Selain itu, Korea Selatan tumbuh menjadi negara dengan teknologi yang mulai maju. Gampangnya, salah satu smartphone yang sering digandrungi dinegeri ini berasal dari Korea, yaitu Samsung. Perusahaan yang didirikan oleh Lee Byung-chull pada tanggal 1 Maret 1938 di Daegu, Korea Selatan ini sekarang bahkan menjadi pilihan alternatif bagi masyarakat tanah air ketika ingin membeli smartphone middle high disamping membeli iPhone dari Apple.

Benarkah demikian?

Saya bukan seorang ekonom, dan tidak pernah memiliki spesialisasi demikian, hanya memiliki minat pada lini ini dan bertekad memperbaikinya.

Tetapi, kira-kira inilah kiranya yang perlu kita jadikan renungan bersama. Tentang sebuah big why, why sebuah nation dapat menjadi maju atau gagal. Ketika kita menemukan why tersebut, akan lebih mudah bagi kita menentukan arah gerak memperbaikinya.