Wednesday, August 7, 2019

#LifeJourney 07: REFLECTION FOR NATION

Merlion, Singapore

Hari itu, saya kembali tersadar, tentang sebuah tanggung jawab dari seorang manusia terhadap negerinya

Perlahan-lahan tapi pasti, Allah mulai bukakan tabir-tabir Nya. Sehingga nampaklah hal yang tak tampak dan tak dirasakan oleh orang pada umumnya.

Tetapi, diri ini kerap mengerti, akan sebuah kerdilnya kapasitas, dan besarnya tembok tebal raksasa yang menghadang.

Berdiri di negeri sendiri, itulah yang selalu terfikirkan, di mulai dari hari yang itu..

Akankah kesempatan itu datang?

Indonesia, harapan itu masih ada

Tuesday, July 23, 2019

#LifeJourney 06: RENUNGAN INDONESIA VS KOREA SELATAN

Seoul Tower Namsan - South Korea 2018

Kondisi ekonomi Indonesia pada umumnya dan global pada khususnya, sedang menjadi topik pembahasan yang hangat. Bagaimana tidak? hampir setiap waktu kita melihat, ekonomi menjadi sebuah dasar atau pondasi dalam kita mengukur setiap keberhasilan kerja pemerintah.

Hal ini sangat wajar, karena dampak yang paling dirasakan dari sebuah negara (atau pemerintahan) yang berhasil menyentuh hati rakyat yaitu ada pada sisi ekonominya. Karena ada istilah dari ekonomi, dari perut naik ke hati. Benarkah demikian?

Anyway, berbicara tentang ekonomi ini sangat menarik sekali menurut saya. Pertama kali semenjak SMA sudah tertarik pada lini ini, walaupun tidak pernah sekolah secara khusus mempelajari hal ini, tetapi rasanya sangat challenging ketika kita berupaya dan berfikir untuk kemajuan sebuah ekonomi, yang dampaknya bisa dirasakan banyak orang.

Berbicara tentang ekonomi, ada sebuah hal yang bisa menjadi renungan bagi kita semua, khususnya orang Indonesia, tentang sejauh apa kita telah melangkah.

Saya menemukan, sebuah grafik perbandingan GPD per kapita antara Indonesia dengan Korea Selatan seperti yang tertera pada gambar dibawah ini.
Perbandingan GDP per kapita Indonesia vs Korea Selatan
47 tahun yang lalu, GDP per kapita Indonesia, pernah menyentuh pada garis horizontal yang sama dengan Korea. Tepatnya dimulai pada tahun 1967 dan menjelang berakhir pada tahun 1972, garis itu masih menyatu. Pada waktu tersebut, kondisi kita sama-sama masih memulai dari nol/awal, tetapi kita bisa melihat lima tahun setelahnya, Korea mulai merangkak naik dan puncaknya menuju 10000 USD pada tahun 1994, tepat saat saya lahir hehe.

Dalam sebuah kajian kenegaraan, pernah disampaikan, bahwa pada waktu itu nilai tukar kita (rupiah) bisa lebih besar dibandingkan dengan nilai tukar won lho. Tetapi jika kita lihat sekarang, 1 won setara dengan 11,88 rupiah (24/07/2019).

Indonesia vs Korsel
Selain itu, Korea Selatan tumbuh menjadi negara dengan teknologi yang mulai maju. Gampangnya, salah satu smartphone yang sering digandrungi dinegeri ini berasal dari Korea, yaitu Samsung. Perusahaan yang didirikan oleh Lee Byung-chull pada tanggal 1 Maret 1938 di Daegu, Korea Selatan ini sekarang bahkan menjadi pilihan alternatif bagi masyarakat tanah air ketika ingin membeli smartphone middle high disamping membeli iPhone dari Apple.

Benarkah demikian?

Saya bukan seorang ekonom, dan tidak pernah memiliki spesialisasi demikian, hanya memiliki minat pada lini ini dan bertekad memperbaikinya.

Tetapi, kira-kira inilah kiranya yang perlu kita jadikan renungan bersama. Tentang sebuah big why, why sebuah nation dapat menjadi maju atau gagal. Ketika kita menemukan why tersebut, akan lebih mudah bagi kita menentukan arah gerak memperbaikinya.

Monday, July 22, 2019

Membangun Budaya Riset, Belajar dari Jepang

sumber: instagram @ali_rahmat_agrotek

bDr. Wisnu IPB (tulisan ini dicopy dari postingan Instagram mas Ali MITI KM @ali_rahmat_agrotek)

Tulisan saya ini diilhami dari pengalaman pribadi ketika menempuh studi S3 di Jepang, tepatnya di Tokyo Institute of Technology. Dengan segala variasinya, tipikal laboratorium riset di Jepang hampir sama. Dipimpin oleh seorang profesor (sensei). Biasanya di lab tersebut ada seorang associate profesor (mungkin kalau di Indonesia jabatan fungsionalnya Lektor Kepala), seorang assitant profesor (kalau di Indonesia mungkin Lektor), 1-2 postdoc, beberapa mahasiswa S1, S2, dan S3, serta beberapa peneliti atau engineer non dosen.

Setiap Lab memiliki roadmap yang jelas sehingga penelitian berjalan berkesinambungan. Biasanya tiap Lab punya beberapa fokus penelitian. Sebagai contoh di Lab yang saya bergabung di dalamnya, Lab Bioinformatika, fokusnya adalah docking dan molecular simulation dan HPC untuk pengolahan sekuen DNA yang dihasilkan NGS. Fokus riset ini menunjukkan expertise dari setiap Profesor, yang kemungkinan besar hasil pemetaan dari roadmap Departemen dan Perguruan Tingginya. Maka sangat jarang ditemui profesor di Jepang merambah ke mana-2 dalam melakukan risetnya. Kemungkinan overlap tetap ada tapi tdk keluar dari fokus atau expertisenya. Dengan kondisi seperti ini memacu banyak kolaborasi riset, karena masing-2 memahami benar bidang atau porsi masing-2.

Di lab ini sengaja dibangun tata nilai, mungkin ini yg membedakan dgn lab-2 di negara lain spt di eropa dan amerika. Di Jepang bahkan mahasiswa yang ingin melakukan kerja tambahan (part time job) di luar kampus harus mendapat ijin dari profesornya. Hirarki jg sengaja dibangun namun tetap menghormati hak pribadi. Profesor bersama asociate dan assistant profesor menjadi semacam top management. Mahasiswa S3 diberi "mandat" mengkoordinir beberapa mhs S2 atau S1 dalam suatu tim riset. Setiap tim riset bertemu rutin minimal 3 kali sepekan, yaitu presentasi kemajuan risetnya, presentasi sebuah buku referensi yang dibaca bersama, dan presentasi paper.

Komitmen profesor (sensei) untuk mengawal diskusi ilmiah rutin ini patut diacungi jempol. Profesor hampir tidak pernah absen untuk hadir dalam presentasi kemajuan riset dari mahasiswa bimbingannya baik s1, s2, maupun s3 ya.