Monday, July 13, 2020

The Death of Samurai : Robohnya Sony, Panasonic, Sharp, Toshiba dan Sanyo

Artikel ini disadur dari sebuah grup Telegram dan ditulis oleh orang yang penulis ketahui, tetapi artikel ini bagus dan bermanfaat.



Hari-hari ini, langit diatas kota Tokyo terasa begitu kelabu. Ada kegetiran yang mencekam dibalik gedung-gedung raksasa yang menjulang disana. Industri elektronika mereka yang begitu digdaya 20 tahun silam, pelan-pelan memasuki lorong kegelapan yang terasa begitu perih.

Bulan lalu, Sony diikuti Panasonic dan Sharp mengumumkan angka kerugian trilyunan rupiah. Harga-harga saham mereka roboh berkeping-keping. Sanyo bahkan harus rela menjual dirinya lantaran sudah hampir kolaps. Sharp berencana menutup divisi AC dan TV Aquos-nya. Sony dan Panasonic akan mem-PHK ribuan karyawan mereka. Dan Toshiba? Sebentar lagi divisi notebook-nya mungkin akan bangkrut (setelah produk televisi mereka juga mati).
Adakah ini pertanda salam sayonara harus dikumandangkan? Mengapa kegagalan demi kegagalan terus menghujam industri elektronika raksasa Jepang itu? Di pagi ini, kita akan coba menelisiknya.

Serbuan Samsung dan LG itu mungkin terasa begitu telak. Di mata orang Jepang, kedua produk Korea itu tampak seperti predator yang telah meremuk-redamkan mereka di mana-mana. Di sisi lain, produk-produk elektronika dari China dan produk domestik dengan harga yang amat murah juga terus menggerus pasar produk Jepang. Lalu, dalam kategori digital gadgets, Apple telah membuat Sony tampak seperti robot yang bodoh dan tolol.

What went wrong? Kenapa perusahaan-perusahaan top Jepang itu jadi seperti pecundang? Ada tiga faktor penyebab fundamental yang bisa kita petik sebagai pelajaran.

Faktor 1 : Harmony Culture Error.
Dalam era digital seperti saat ini, kecepatan adalah kunci. Speed in decision making. Speed in product development. Speed in product launch. Dan persis di titik vital ini, perusahaan Jepang termehek-mehek lantaran budaya mereka yang mengangungkan harmoni dan konsensus.

Datanglah ke perusahaan Jepang, dan Anda pasti akan melihat kultur kerja yang sangat mementingkan konsensus. Top manajemen Jepang bisa rapat berminggu-minggu sekedar untuk menemukan konsensus mengenai produk apa yang akan diluncurkan. Dan begitu rapat mereka selesai, Samsung atau LG sudah keluar dengan produk baru, dan para senior manajer Jepang itu hanya bisa melongo.

Budaya yang mementingkan konsensus membuat perusahaan-perusahaan Jepang lamban mengambil keputusan (dan dalam era digital ini artinya tragedi).

Budaya yang menjaga harmoni juga membuat ide-ide kreatif yang radikal nyaris tidak pernah bisa mekar. Sebab mereka keburu mati : dijadikan tumbal demi menjaga “keindahan budaya harmoni”. Ouch.

Faktor 2 : Seniority Error.
Dalam era digital, inovasi adalah oksigen. Inovasi adalah nafas yang terus mengalir. Sayangnya, budaya inovasi ini tidak kompatibel dengan budaya kerja yang mementingkan senioritas serta budaya sungkan pada atasan.

Sialnya, nyaris semua perusahaan-perusahaan Jepang memelihara budaya senioritas. Datanglah ke perusahaan Jepang, dan hampir pasti Anda tidak akan menemukan Senior Managers dalam usia 30-an tahun. Never. Istilah Rising Stars dan Young Creative Guy adalah keanehan.

Promosi di hampir semua perusahaan Jepang menggunakan metode urut kacang. Yang tua pasti didahulukan, no matter what. Dan ini dia : di perusahaan Jepang, loyalitas pasti akan sampai pensiun. Jadi terus bekerja di satu tempat sampai pensiun adalah kelaziman.

Lalu apa artinya semua itu bagi inovasi ? Kematian dini. Ya, dalam budaya senioritas dan loyalitas permanen, benih-benih inovasi akan mudah layu, dan kemudian semaput. Masuk ICU lalu mati.

Faktor 3 : Old Nation Error.
Faktor terakhir ini mungkin ada kaitannya dengan faktor kedua. Dan juga dengan aspek demografi. Jepang adalah negeri yang menua. Maksudnya, lebih dari separo penduduk Jepang berusia diatas 50 tahun.

Implikasinya : mayoritas Senior Manager di beragam perusahaan Jepang masuk dalam kategori itu. Kategori karyawan yang sudah menua.

Disini hukum alam berlaku. Karyawan yang sudah menua, dan bertahun-tahun bekerja pada lingkungan yang sama, biasanya kurang peka dengan perubahan yang berlangsung cepat.

Ada comfort zone yang bersemayam dalam raga manajer-manajer senior dan tua itu.

Dan sekali lagi, apa artinya itu bagi nafas inovasi? Sama : nafas inovasi akan selalu berjalan dengan tersengal-sengal.

Demikianlah, tiga faktor fundamental yang menjadi penyebab utama mengapa raksasa-raksasa elektronika Jepang limbung. Tanpa ada perubahan radikal pada tiga elemen diatas, masa depan Japan Co mungkin akan selalu berada dalam bayang-bayang kematian.

〰〰〰〰〰〰
Salam Daijiro

Thursday, June 25, 2020

Persiapan Aging Population di Negara Maju (Jepang)

Gambar 1
Disaat negara2 berkembang spt Indonesia sedang menyiapkan agenda menyambut bonus demografi, negara2 maju, semisal Jepang, tengah menyiapkan segalanya menyambut aging population. Saat-saat ini riset dan konsentrasi untuk Elderly people mulai menjadi perhatian. Mulai dari persiapan fasilitas perawatan, asuransi, kebutuhan harian, sampai kendaraan canggih khusus elderly.

 Beberapa waktu lalu saya mengikuti seminar dari pemerintah prefektur, disana saya melihat info terkait ada perusahaan Jepang yang core businessnya fokus pada produksi makanan untuk elderly. Karena elderly harus memakan makanan yang halus dan mudah di cerna, jadilah itu sebagai kunci dan celah bisnis mereka. Selain itu sektor makanan, ada juga sektor perawatan dan entertaiment for elderly. Laundry dan kebutuhan2 kebersihan untuk elderly juga ada.

Saya tidak tahu ini di lihat sebagai peluang bisnis, atau mengabdian yang tulus kepada elderly people. Tapi kira2 begitu yang saya perhatikan.

Dalam satu mata kuliah, saya juga melihat banyak profesor yang juga sedang mengembangkan kendaraan untuk elderly people. Mengambil tema Future Vision, A Diverse and Individualized Social Innovation Hub, dengan goals yaitu: Kendaraan yang aman dan nyaman untuk elderly, information service untuk elderly bisa ikut agenda2, dan social structure ygn mendukung elderly untuk ikut agenda2 dan mendukung daily life nya.

Untuk kendaraan yang aman yang nymana tersebut menarik, definisinya yaitu driver assisted system to prevent car accidents and relieve anxiety by understanding human factors of the elderly.

Kalimat yang saya tebalkan merupakan kata kunci dari riset2 yang sedang berkembang di Jepang sekarang.

Tuesday, June 23, 2020

Motivasi untuk Menjadi Pakar dari Dosen Pembimbing Skripsi S1


Qadarullah, di saat semangat melemah dengan berbagai kondisi dan cobaan, Allah tidak akan melepas hamba-Nya begitu saja. Allah tuntun saya untuk mengikuti agenda Dies Natalis ke 15 Teknik Industri Universitas Brawijaya.

Disana, saya melihat banyak alumni-alumni dan yang paling penting dosen. Saya jadi termotivasi untuk selalu bermanfaat lebih karena bertemu dengan dosen-dosen tersebut.

Yang paling penting, Pak Budi (dosen pembimbing skripsi S1 saya) tiba2 nge chat pribadi di zoom, dan terjadilah chat seperti ini.





Sungguh, hal itu sangat memotivasi saya untuk terus berjuang di S2 ini dan menyelesaikan riset dengan ikhtiyar yang maksimal. Tema riset ini juga (disaster with ICT) yang disarankan oleh Pak Budi untuk saya ajukan ke calon sensei di Jepang waktu itu.

Semoga harapan itu dapat terwujud, semoga saya senantiasa bersemangat dan sungguh-sungguh dalam belajar, meraup sebanyak-banyaknya ilmu dan inspirasi dari negeri sakura.

Semoga Allah membuka jalan untuk menjadikan saya lebih bermanfaat untuk umat manusia ke depannya.

Aamiin ya Rabb..
allahumma syahd (ya allah saksikanlah)