Showing posts with label Deep Thinking. Show all posts
Showing posts with label Deep Thinking. Show all posts

Wednesday, February 5, 2025

Isra Miraj dalam Perspektif Sains dan Agama

sumber: google

Isra Miraj dalam Perspektif Sains dan Agama bukanlah kisah perjalanan antariksa. Aspek astronomis sama sekali tidak ada dalam kajian Isra' Mi'raj Namun, Isra' Mi'raj mengusik keingintahuan akal manusia untuk mencari penjelasan. 

Aspek aqidah dan ibadah berintegrasi dengan aspek ilmiah dalam membahas Isra’ Mi’raj. Inspirasi saintifik Isra’ Mi’raj mendorong kita untuk berfikir mengintegrasikan sains dalam aqidah dan ibadah. 

Mari kita mendudukkan masalah Isra' Mi'raj sebagai mana adanya yang diceritakan di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits sahih. Kemudian sekilas kita ulas kesalahpahaman yang sering terjadi dalam mengaitkan isra’ mi’raj dengan kajian astronomi. Hal yang juga penting dalam mengambil hikmah peringatan isra’ mi’raj adalah menggali inspirasi saintifik yang mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah. 

Kisah dalam Al-Qur’an dan Hadits 

Di dalam QS. Al-Isra’:1 Allah menjelaskan tentang isra’: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Dan tentang mi’raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18: “Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada surga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” Sidratul muntaha secara harfiah berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak terlampaui’, suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu. 

Kejadian-kejadian sekitar isra’ dan mi’raj dijelaskan di dalam hadits-hadits nabi. Dari hadits-hadits yang sahih, didapati rangkaian kisah-kisah berikut. Suatu hari malaikat Jibril datang dan membawa Nabi, lalu dibedahnya dada Nabi dan dibersihkannya hatinya, diisinya dengan iman dan hikmah.

Kemudian didatangkan buraq, ‘binatang’ berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Dengan buraq itu Nabi melakukan isra’ dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Nabi SAW salat dua rakaat di Baitul Maqdis, lalu dibawakan oleh Jibril segelas khamr (minuman keras) dan segelas susu; Nabi SAW memilih susu. Kata malaikat Jibril, “Engkau dalam kesucian, sekiranya kau pilih khamr, sesatlah ummat engkau.”

Dengan buraq pula Nabi SAW melanjutkan perjalanan memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat salat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.

Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam (‘pena’). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia:  sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, “Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan ummat engkau.” Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur’an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.

Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah salat wajib. Mulanya diwajibkan salat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh-sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, “Aku telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah.” Maka Allah berfirman, “Itulah fardlu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku.”

Urutan kejadian sejak melihat Baitul Ma’mur sampai menerima perintah salat tidak sama dalam beberapa hadits, mungkin menunjukkan kejadian-kajadian itu serempak dialami Nabi. Dalam kisah itu, hal yang fisik (dzhahir) dan non-fisik (bathin) bersatu dan perlambang pun terdapat di dalamnya. Nabi SAW yang pergi dengan jasad fisik hingga bisa salat di Masjidil Aqsha dan memilih susu yang ditawarkan Jibril, tetapi mengalami hal-hal non-fisik, seperti pertemuan dengan para Nabi yang telah wafat jauh sebelum kelahiran Nabi SAW dan pergi sampai ke surga. Juga ditunjukkan dua sungai non-fisik di surga dan dua sungai fisik di dunia. Dijelaskannya makna perlambang pemilihan susu oleh Nabi Muhammad SAW, dan menolak khamr atau madu. Ini benar-benar ujian keimanan, bagi orang mu’min semua kejadian itu benar diyakini terjadinya. Allah Maha Kuasa atas segalanya.

“Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia”. Dan Kami tidak menjadikan pemandangan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi  manusia….” (QS. 17:60).

“Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai aku (kata Nabi SAW), aku berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, aku dapatkan apa yang aku inginkan dan aku jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, aku memperhatikannya….” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Hakikat Tujuh Langit

Peristiwa isra’ mi’raj yang menyebut-nyebut tujuh langit mau tak mau mengusik keingintahuan kita akan hakikat langit, khususnya berkaitan dengan tujuh langit yang juga sering disebut-sebut dalam Al-Qur’an.

Bila kita dengar kata langit, yang terbayang adalah kubah biru yang melingkupi bumi kita. Benarkah yang dimaksud langit itu lapisan biru di atas sana dan berlapis-lapis sebanyak tujuh lapisan?

Warna biru hanyalah semu, yang dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh partikel-partikel atmosfer. Langit (samaa’ atau samawat) berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak ada.

Bilangan ‘tujuh’ sendiri dalam beberapa hal di Al-Qur’an  tidak  selalu menyatakan  hitungan  eksak  dalam  sistem desimal. Di dalam Al-Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh  puluh’ sering mengacu  pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan: “Siapa  yang  menafkahkan  hartanya di  jalan  Allah  ibarat  menanam  sebiji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai  yang masing-masingnya  berbuah  seratus  butir. Allah  melipatgandakan pahala orang-orang yang dikehendakinya….” Juga di dalam Q.S. Luqman:27: “Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai  pena dan  lautan  menjadi tintanya dan  ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah….” Jadi ‘tujuh langit’ lebih mengena bila  difahamkan  sebagai  tatanan  benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.

Lalu, apa hakikatnya langit dunia, langit ke dua, langit ke tiga, … sampai langit ke tujuh dalam kisah isra’ mi’raj?  Mungkin ada orang mengada-ada penafsiran, mengaitkan dengan astronomi. Para penafsir dulu ada yang berpendapat bulan di langit pertama,  matahari di langit ke empat, dan planet-planet lain di lapisan lainnya. Kini ada sembilan planet yang sudah diketahui, lebih dari tujuh. Tetapi, mungkin masih ada orang yang ingin mereka-reka. Kebetulan, dari jumlah planet yang sampai saat ini kita ketahui, dua planet dekat matahari (Merkurius dan Venus), tujuh lainnya –termasuk bumi– mengorbit jauh dari matahari.

Pengertian langit dalam kisah isra’ mi’raj bukanlah  pengertian langit secara fisik. Karena, fenomena yang diceritakan Nabi pun bukan fenomena fisik, seperti perjumpaan dengan para Nabi yang hakikatnya telah wafat. Langit dan Sidratul Muntaha dalam kisah isra’ mi’raj adalah alam ghaib yang tak bisa kita ketahui hakikatnya dengan keterbatasan ilmu manusia. Hanya Rasulullah SAW yang berkesempatan mengetahuinya. Isra’ mi’raj adalah mu’jizat yang hanya diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Perjalanan Keluar Dimensi Ruang Waktu

Isra’ mi’raj jelas bukan perjalanan seperti dengan pesawat terbang antarnegara dari Mekkah ke Palestina dan penerbangan antariksa dari Masjidil Aqsha ke langit ke tujuh lalu ke Sidratul Muntaha. Isra’ Mi’raj adalah perjalanan keluar dari dimensi ruang waktu. Tentang caranya, iptek tidak dapat menjelaskan.

Tetapi bahwa Rasulullah SAW melakukan perjalanan keluar ruang waktu, dan bukan dalam keadaan mimpi, adalah logika yang bisa menjelaskan beberapa kejadian yang diceritakan dalam hadits shahih. Penjelasan perjalanan keluar dimensi ruang waktu setidaknya untuk memperkuat keimanan bahwa itu sesuatu yang lazim ditinjau dari segi sains, tanpa harus mempertentangkannya dan menganggapnya sebagai suatu kisah yang hanya dapat dipercaya saja dengan iman.

Kita hidup di alam yang dibatas oleh dimensi ruang-waktu (tiga dimensi ruang – mudahnya kita sebut panjang, lebar, dan tinggi –, serta satu dimensi waktu ). Sehingga kita selalu memikirkan soal jarak dan waktu. Dalam kisah Isra’ mi’raj, Rasulullah bersama Jibril dengan wahana “buraq” keluar dari dimensi ruang, sehingga dengan sekejap sudah berada di Masjidil Aqsha. Rasul bukan bermimpi karena dapat menjelaskan secara detil tentang masjid Aqsha dan tentang kafilah yang masih dalam perjalanan. Rasul juga keluar dari dimensi waktu sehingga dapat menembus masa lalu dengan menemui beberapa Nabi. Di langit pertama (langit dunia) sampai langit tujuh berturut-turut bertemu (1) Nabi Adam, (2) Nabi Isa dan Nabi Yahya, (3) Nabi Yusuf, (4) Nabi Idris, (5) Nabi Harun, (6) Nabi Musa, dan (7) Nabi Ibrahim.

Rasulullah SAW juga ditunjukkan surga dan neraka, suatu alam yang mungkin berada di masa depan, mungkin juga sudah ada masa sekarang sampai setelah kiamat nanti. Sekadar analogi sederhana perjalanan keluar dimensi ruang waktu adalah seperti kita pergi ke alam lain yang dimensinya lebih besar. Sekadar ilustrasi, dimensi 1 adalah garis, dimensi 2 adalah bidang, dimensi 3 adalah ruang. Alam dua dimensi (bidang) dengan mudah menggambarkan alam satu dimensi (garis). Demikian juga alam tiga dimensi (ruang) dengan mudah menggambarkan alam dua dimensi (bidang). Tetapi dimensi rendah tidak akan sempurna menggambarkan dimensi yang lebih tinggi. Kotak berdimensi tiga tidak tampak sempurna bila digambarkan di bidang yang berdimensi dua. Sekarang bayangkan ada alam berdimensi dua (bidang) berbentuk U. Makhluk di alam “U” itu bila akan berjalan dari ujung satu ke ujung lainnya perlu menempuh jarak jauh.

Kita yang berada di alam yang berdimensi lebih tinggi dengan mudah memindahkannya dari satu ujung ke ujung lainnya dengan mengangkat makhluk itu keluar dari dimensi dua, tanpa perlu berkeliling menyusuri lengkungan “U”. Alam malaikat (juga jin) bisa jadi berdimensi lebih tinggi dari dimensi ruang waktu, sehingga bagi mereka tidak ada lagi masalah jarak dan waktu. Karena itu mereka bisa melihat kita, tetapi kita tidak bisa melihat mereka. Ibaratnya dimensi dua tidak dapat menggambarkan dimensi tiga, tetapi sebaliknya dimensi tiga mudah saja menggambarkan dimensi dua. Bukankah isyarat di dalam Al-Quran dan Hadits juga menunjukkan hal itu. Malaikat dan jin tidak diberikan batas waktu umur, sehingga seolah tidak ada kematian bagi mereka. Mereka pun bisa berada di berbagai tempat karena tak dibatas oleh ruang.

Rasulullah bersama jibril diajak ke dimensi malaikat, sehingga Rasulullah dapat melihat Jibril  dalam bentuk aslinya (baca QS 53:13-18). Rasul pun dengan mudah pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, tanpa terikat ruang dan waktu. Langit dalam konteks istra’ mi’raj pun bukanlah langit fisik berupa planet atau bintang, tetapi suatu dimensi tinggi. Langit memang bermakna sesuatu di atas kita, dalam arti fisik maupun non-fisik.

Sains Terintegrasi dengan Aqidah dan Ibadah. Bagaimanapun ilmu manusia tak mungkin bisa menjabarkan hakikat perjalanan isra’ mi’raj. Allah hanya memberikan ilmu kepada manusia sedikit sekali (QS. Al-Isra: 85). Hanya dengan iman kita mempercayai bahwa isra’ mi’raj benar-benar terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah SAW. Rupanya, begitulah rencana Allah menguji keimanan hamba-hamba-Nya (QS. Al-Isra:60) dan menyampaikan perintah salat wajib secara langsung kepada Rasulullah SAW.

“…dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: ‘Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia’ dan Kami tidak menjadikan penglihatan (saat isra’ mi’raj) yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia …”

Pemahaman dengan pendekatan konsep ektra dimensi sekadar pendekatan sains untuk merasionalkan konsep aqidah terkait isra’ mi’raj, walau belum tentu tepat. Tetapi upaya pendekatan saintifik sering dipakai sebagai dalil aqli (akal) untuk memperkuat keyakinan dalam aqidah Islam. Sains seharusnya tidak kontradiktif dengan aqidah dan aqidah bukan hal yang bersifat dogmatis semata, tetapi memungkinkan dicerna dengan akal. Mengintegrasikan sains dalam memahami aqidah dapat menghapuskan dikhotomi aqidah dan sains, karena Islam mengajarkan bahwa kajian sains tentang ayat-ayat kauniyah tak terpisahkan dari pemaknaan aqidah.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS 3:190-191).

Pada sisi lain isra’ mi’raj mengajarkan makna mendalam dalam hal ibadah. Makna penting isra’ mi’raj bagi ummat Islam ada pada keistimewaan penyampaian perintah salat wajib lima waktu. Ini menunjukkan kekhususan salat sebagai ibadah utama dalam Islam. Salat mesti dilakukan oleh setiap Muslim, baik dia kaya maupun miskin, dia sehat maupun sakit.

Ini berbeda dari ibadah zakat yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu secara ekonomi, atau puasa bagi yang kuat fisiknya, atau haji bagi yang sehat badannya dan mampu keuangannya. Salat lima kali sehari semalam yang didistribusikan di sela-sela kesibukan aktivitas kehidupan, mestinya mampu membersihkan diri dan jiwa setiap Muslim. Allah mengingatkan: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al  Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat  Allah (shalat) adalah  lebih  besar (keutamaannya  dari  ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut:45).

Isra’ dan mi’raj juga memberikan inspirasi untuk merenungi makna ibadah shalat, termasuk aspek saintifiknya. Umat Islam telah membuktikan bahwa sains pun bisa diintegrasikan dalam urusan ibadah, untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadah. Demi kepentingan ibadah shalat, umat Islam mengembangkan ilmu astronomi atau ilmu falak untuk penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Tuntutan ibadah mendorong kemajuan sains astronomi pada awal sejarah Islam. Kini astronomi telah menjadi alat bantu utama dalam penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Konsepsi astronomi bola digunakan untuk penentuan arah kiblat. Perhitungan posisi matahari digunakan untuk mencari waktu istimewa dalam penentuan arah kiblat dan jadwal shalat harian. Kita cukup melihat jadwal shalat, tidak lagi direpotkan harus melihat langsung fenonema cahaya matahari atau bayangannya setiap akan shalat. Kini semua ummat Islam Indonesia, apa pun ormasnya, secara umum bisa bersepakat dengan kriteria astronomis dalam penyusunan jadwal shalat.

Inspirasi pemanfaatan sains dalam ibadah juga diperluas untuk ibadah-ibadah lainnya terkait dengan penentuan waktu. Penentuan awal Ramadhan dan hari raya kini sudah banyak memanfaatkan pengetahuan astronomi atau ilmu falak, baik untuk keperluan perhitungannya (hisab) maupun untuk pengamatannya (rukyat).

Penentuan awal Ramadhan atau hari raya yang kadang berbeda saat ini bukan lagi disebabkan oleh perbedaan metode hisab dan rukyat, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan kriteria astronomisnya.

Alangkah indahnya kalau pelajaran kesepakatan kriteria astronomis dalam penentuan jadwal shalat juga diterapkan untuk penentuan awal Ramadhan dan hari raya sehingga potensi perbedaan dapat dihilangkan. Tanpa kesepakatan kriteria itu, tahun ini dan beberapa tahun ke depan kita akan menghadapi lagi persoalan perbedaan awal Ramadhan dan hari raya.

Upaya menuju titik temu kriteria astronomi sudah mulai dilakukan. Tinggal selangkah lagi kita bisa mendapatkan kriteria hisab rukyat Indonesia yang mempersatukan umat. Isra’ mi’raj pun mengajarkan upaya menuju “titik temu” menurut cara pandang manusiawi antara Allah dan Rasullah terkait dengan jumlah shalat wajib yang semula 50 kali menjadi 5 kali sehari semalam.

Satu sisi itu menunjukkan kemurahan Allah, tetapi pada sisi lain kita bisa mengambil pelajaran bahwa kompromi untuk mencapai titik temu adalah suatu keniscayaan. Kita tidak boleh memutlakkan pendapat kita seolah tidak bisa berubah, termasuk untuk mencapai titik temu.

Kriteria astronomis hisab rukyat juga bukan sesuatu yang mutlak, mestinya bisa kita kompromikan untuk mendapatkan kesepakatan ada ada ketentraman dalam beribadah shaum Ramadhan dan ibadah yang terkait dengan hari raya (zakat fitrah, shalat hari raya, Shaum di bulan Syawal,  shaum Arafah) Isra’ mi’raj memberikan inspirasi mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah, selain mengingatkan pentingnya shalat lima waktu.


Wednesday, October 27, 2021

Melihat Indonesia dari Kejauhan

Melihat Indonesia dari Kejauhan

by Elmo Juanara




(sebuah renungan yg sy tulis dimalam hari)

Setelah kita keluar, kita jadi memiliki helicopter view dlm melihat negeri kita, Indonesia

Dalam view tersebut, kita jadi tersadar.. betapa banyak kita terlalu tenggelam dalam euforia semu dan slogan2 yg nyaris tak memiliki isi

Kita sering lantangkan tentang bonus demografi, tetapi pada kenyataannya bonus tersebut tidak lebih dari celah sempit yg menyisa, yg meninggalkan ruang bencana yg besar jk tdk dimanfaatkan dgn 'sebenar benarnya'. Bonus itu hampir habis, dan tantangan besar di depan mata

Kita sering terpukau dgn istilah2 canggih yg diimpor dari luar, padahal mendefinisikan istilah itu saja kita masih bingung

Kita mungkin msh sering ikut2an, apa yg menjadi tren disana untuk ditiru habis disini, tanpa tahu apa tren itu 

Disaat yg sama org2 d luar sdh jauh melesat, berfikir jauh menembus visi, dan fokus kpd kontribusi real yg bs d berikan

Mungkin saatnya kt kembali merenung, mengasah potensi diri, dan menemukan jati diri..

Agar kelak kita tidak menjadi buih yg terombang ambing, ikut kesana kamari, menjadi target pasar yg diincar terus menerus, dan akhirnya kt ikut menjadi bagian dr yg mengincar itu, naudzubillah.

Tapi apapun kondisinya, tiada boleh berputus asa dari rahmat Allah SWT,

Indonesia Harapan Itu Masih Ada ..

#reflection #muhasabah #nation

Monday, August 31, 2020

Bahaya Mencintai Dunia

Di salin dari Kulsap ODOJ MJR SJS 2 tanggal 31 Agustus 2020 oleh zaharaannisaa

(dikutip dari buku Tazkiyatun Nafs tulisan Ibnu Rajab Al-Hambali, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, dan Imam Al-Ghazali)

Dalam Al-quran Allah swt telah berfirman yang artinya:

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sendau gurau yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga diri di antara kalian, dan saling berlomba untuk memperbanyak harta dan anak (Al-Hadid:20)

Sederhananya, cinta dunia akan melengahkan seseorang dari cinta kepada Allah dan berdzikir kepadaNya. Sebaliknya, dia sibuk dan dilalaikan oleh semua urusan dunianya, tentang hartanya, kekayaannya, perhiasannya, dan lainnya.

Apabila seseorang dilengahkan oleh harta bendanya, maka dia termasuk kelompok orang merugi. Karena hati jika telah lalai dari dzikrullah, maka setan lah yang akan menguasainya. Setan akan menipunya sehingga ia merasa telah mengerjakan banyak kebaikan, padahal ia baru melakukan sedikit saja.

Dalam buku ini, disebutkan bahwa para ulama berkata bahwa cinta dunia itu pangkal segala kesalahan dan pasti merusak agama, hal ini ditinjau dari berbagai sisi:

Pertama, mencintainya akan mengakibatkan mengagungkannya.

Padahal dunia ini sangatlah remeh di sisi Allah.

Kedua, Allah telah melaknat, memurkai, dan membencinya, kecuali cinta yang hanya ditujukan kepadaNya.

Ketiga, seseorang yang mencintai dunia pasti menjadikannya sebagai tujuan akhir dari segalanya.

Dalam hadist Abu Hurairah yang diriwiyatkan oleh Muslim dijelaskan tentang tiga orang yanh pertama kali dijilat api neraka, yaitu orang yang berperang, orang yang bersedekah, dan orang yang membaca al-quran, mereka mengerjakannya untuk mendapatkan dunia dan kekayaannya.

Begitulah cinta dunia, bisa merusak amal, bahkan menjadikannya sebagai orang yang pertama kali masuk neraka. Na'uzubillah min zalik.

Keempat, mencintai dunia akan menghalangi seseorang dr aktivitas bermanfaat untuk kehidupan akhirat.

Sebaliknya ia akan sibuk dengan apa yang dicintainya (dunia yang nelalaikan)

Kelima, mencintai dunia menjadikan dunia sebagai harapan terbesar seorang hamba.

Padahal Rasullah telah bersabda barang siapa yang mengahrapkan akhirat, Allah akan menjadikan kekayaan di hatinya dan menghimpun seluruh urusannya untuknya serta dunia akan datang kepadanya dalam keaadaan tunduk.

Lantas apa yg membuat kita masih menginginkan dunia?

Keenam, pencinta dunia adalah manusia dengan adzab yang paling berat.

Mereka disiksia du dunia, du barzakh, dan di akhirat.

Na'uzubillah min zalik.

Dunia ibarat bayang-bayang. Disangka memiliki hakikat, padahal tidak. Dikejar untuk digapai, sudah pasti tidak akan pernah sampai. Mirip fatamorgana.

Betapa dunia sangatlah remeh di sisi Allah. Dan sudah pasti akhirat lah yang lebih mulia di sisi Allah.

Abdullah bin Mas'ud berkata, "Bagi semua orang dunia ini adalah tamu, dan harta itu adalah pinjaman. Setiap tamu pasti akan pergi dan setiap pinjaman pasti harus dikembalikan".

Mari hidup di dunia dengan bervisi Surga. Maka kesempatan hidup di dunia ini kita jadikan sarana untuk mempersiapkan bekal kita di akhirat, agar Allah izinkan kita berkumpul lagi di Surga Nya.

Wednesday, August 7, 2019

#LifeJourney 07: REFLECTION FOR NATION

Merlion, Singapore

Hari itu, saya kembali tersadar, tentang sebuah tanggung jawab dari seorang manusia terhadap negerinya

Perlahan-lahan tapi pasti, Allah mulai bukakan tabir-tabir Nya. Sehingga nampaklah hal yang tak tampak dan tak dirasakan oleh orang pada umumnya.

Tetapi, diri ini kerap mengerti, akan sebuah kerdilnya kapasitas, dan besarnya tembok tebal raksasa yang menghadang.

Berdiri di negeri sendiri, itulah yang selalu terfikirkan, di mulai dari hari yang itu..

Akankah kesempatan itu datang?

Indonesia, harapan itu masih ada

Tuesday, July 9, 2019

#LifeJourney 05: AKAR PERMASALAHAN

Rakernas MITI KM 2019

Tulisan kali ini berawal dari tugas Kulsap ODOJ MJR yang diminta oleh comin. Kebetulan sebelumnya habis melaksanakan Rakernas (Rapat Kerja Nasional) MITI KM dan yang menjadi narasumber salah satunya adalah Sensei Edi Sukur, maka sesuai permintaan tulsian kali ini coba mengulas materi tersebut. Tentu dengan penangkapan, perspektif, dan interpretasi saya pribadi. Mohon maaf jika masih banyak yang kurang sesuai.

Tema materi yang disampaikan oleh sensei yaitu Think Global, Act Local. Tentang Think Global, kita berbicara tentang apa yang terjadi secara makro pada lingkup global. Kondisi global tentu akan mempengaruhi kondisi lokal kita. Oleh sebab itu, mengetahui kondisi global adalah salah satu cara untuk dapat menemukan rencana aksi yang kita lakukan oleh perbaikan lokal kita.

Beberapa pergerakan global yang disampaikan:

1. Geopolitical Movement
Kondisi geopolitik saat ini menggambarkan munculnya negara superpower selain Amerika, yaitu Cina. Dengan muncul dan berkembangnya Cina saat ini, membuat beberapa negara Asia lainnya cenderung khawatir terlibas. Oleh karena itu dibuatkan kawasan kemitraan ekonomi di Asia atau Asean. Sebagai contoh, dibuatnya Perjanjian Dagang  RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership) Asia atau yang biasa disebut Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional yang terdiri atas Cina, Jepang, Korea Selatan, India, Australia, dan Selandia Baru. Blok RCEP ini merupakan blok ekonomi terbesar di dunia (Najib, 2017) yang mengcover hampir separuh ekonomi dunia.

Selain itu, pergerakan geopolitik seperti yang ada di Hongkong baru-baru ini menghasilkan sebuah pembelajaran, tentang sebuah kebebasan dari sebuah negara yang tidak ingin diatur oleh negara lain.

2. Economic Movement
Secara tidak sadar, pergerakan politik global akan berdampak secara langsung kepada kondisi ekonomi negeri kita. Seperti contoh beberapa krisis moneter yang terjadi pada waktu lalu, memberikan dampak negatif pada ekonomi Indonesia.

Saat ini, isu geopolitik yang sedang hangat yaitu perang dagang antara Amerika dengan Cina. Perang dagang antar kedua negara ini sedikit banyak membuka ancaman bagi negara-negara lainnya, tetapi juga membuka celah bagi negara lain untuk mengambil kesempatan pada kondisi ini. Seperti misalnya, masih ada beberapa negara yang masih bisa mengekspor barangnya ke negara-negara tersebut, seperti Thailand dan Vietnam.

3. Tehcnology Movement
Pergerakan teknologi yang semakin maju tentu perlu masuk dalam perhitungan kita. Seperti salah satu teknologi yang ditemukan, dapat menurunan kwh listrik menjadi 1 rupiah/kwh. Secara ekonomi memang masuk menjadi ekonomis, tetapi secara kemaslahatan untuk stabilitas negara ini cenderung membuat negara tidak stabil, dapat dibayangkan bagaimana investasi PLN terhadap listrik di Indonesia bisa hancur seketika jika tiba-tiba harga listrik jadi murah sekali.

Sebuah renungan

Jika di fikir-fikir, semua yang terjadi di dunia ini-selain karena kehendak Allah, tentu juga karena atas keinginan/nafsu para manusia untuk merasa ingin merasa bebas dan berkhendak mengelola bumi ini.

Dasar dari semua itu ialah hawa nafsu. Saya sering kemudian berfikir, apa yang membuat negara-negara lain kemudian menindas dan menjajah negara lainnya? sehingga munculnya peperangan dan pertumpahan darah? jawabannya yaitu hawa nafsu dan obsesi yang kuat

Sifat ingin menguasai lebih dengan cara apapun, termasuk cara yang akan merugikan sebagian besar manusia akan terus ditempuh demi memenuhi ambisinya. Dengan hal ini kita semakin di ingatkan, tentang janji iblis yang akan terus menggoda umat manusia sampai datangnya hari kiamat.

Selain itu, akar permasalahan dari ini semua terangkum dalam satu kata kunci lainnya yaitu keserakahan. Yup, menurut saya keserakahan menjadi faktor penting dari akar permasalahan yang ada di dunia ini.

Keserakahan akan membuat sebuah negara yang sudah makmur untuk terus maju dan kadang berakhir dengan perbuatan dzolim pada negara lainnya. Perampasan sumber daya alam, penguasaan struktur pemerintahan, kebijakan yang tidak memprioritaskan rakyat kecil, itu semata-mata semua diraih hanya demi keserakahan.

Jadi, kalau diingat-ingat kita, sebagai manusia, sebenarnya sedang hidup dengan masalah yang itu-itu saja. Masalah yang dari dulu sudah terjadi, dan kita sedang menghadapi itu kembali. Masalahnya sama, hanya packagingnya yang berbeda. Apa masalah itu? ya manusia selalu di uji oleh tiga ujian, Harta, Tahta, dan Wanita.

Oleh karenanya, mencari cara untuk memperbaiki negara ini sambil tetap terus mendekatkan diri kepada Allah -agar dijauhkan dari fitnah-fitnah tersebut- adalah cara terbaik menghasilkan khalifah yang akan mengelola bumi ini.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.” Mereka berkata : “Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu siapa yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku me-ngetahui apa yang tidak Engkau ketahui.” (QS.2: 30)

Allahualam..



Thursday, October 25, 2018

JANGAN TERBUAI, SEGERA MELESAT


Beberapa anak muda yang saya temui, khususnya perantau yang datang ke ibukota, banyak yang menghabiskan penghasilannya untuk entertaiment (hiburan semata) dibanding menyiapkan  dan membangun aset-aset berguna untuk masa depan.

Sewaktu saya melempar opini ini kepada publik, beberapa menjawab atas terjadinya shock culture terhadap mewahnya ibukota. Memang benar, perantau yang datang ke ibukota kemudian melihat segala macam fasilitas transportasi, mall, wisata, gedung-gedung mewah, pastilah mulai tergiur untuk mencicipi semua fasilitas tersebut.

Padahal kami sendiri yang lahir disini juga sedikit gerah dengan kondisi ibukota yang tak kunjung memberikan kepastian ekonomi secara merata. Akhirnya kami lebih memilih untuk bersegera memanfaatkan kesempatan yang ada untuk membangun bisnis, komunitas yang sifatnya untuk keberlangsungan dan ketahanan ekonomi.

Yang mungkin saya sayangkan adalah, ketika para kawan-kawan yang sudah merasakan bekerja di ibukota dan mulai menghasilkan, mestinya kesempatan ini dipakai sebaik-baiknya untuk membangun dan berkontribusi untuk negeri, jangan sampai terlena dengan kemewahan ibukota yang akhirnya membuat kita terjebak pada menjadi karyawan selamanya dan menghabiskan uang kita pada hal yang sia-sia.

Minna san, mari menjadi pemuda yang bisa melihat potensi dan peluang dan menularkan semua itu pada masyarakat dan sekitar kita, agar terjadi perbaikan yang signifikan untuk negeri ini. Mari gunakan penghasilan kita untuk kita kembali berinvestasi kepada apa dahulu kita diinvestasikan. Kurang layak sepertinya jika seorang aktivis, kemudian tenggelam pada hal-hal yang bersifat fana, mestinya visi keabadian harus tetap terpatri di dalam diri.

Ingat, mimpi kita masih panjang, ditengah ketidakpastian (uncertainty) ini, tetapi harapan kita masih ada untuk berkontribusi untuk negeri. Marilah manfaatkan kesempatan yang kita punya untuk melihat jeli setiap peluang, bersungguh-sungguh dalam mengejar mimpi, dan tidak terlena dengan godaan yang menjauhkan pada visi besar kita dan tetap untuk mencintai ummat dan bangsa ini ketimbang memuaskan dan memenuhi kepentingan pribadi semata.

Allahualam

Tuesday, July 24, 2018

Konsistensi dan Permainan Angka

pict by Lusiana

Kali ini kita akan bermain dengan angka. Tetiba tadi pagi saat macet-macet di tol saya ingat 3 angka luar biasa, yaitu 0.99, 1 dan 1.01

Apa yang istimewa dari 3 angka ini?

Kalau diurutkan dalam sebuah deret ukur, angka ini punya selisih sama yaitu hanya 0.01. Kalau dibuat dalam prosentase hanya 1%. Sekarang apa jadinya jika masing-masing angka ini kita pangkatkan dengan 365?

0.99 dipangkatkan 365 hasilnya adalah 0.03
1 dipangkatkan 365 hasilnya adalah 1
dan 1.01 dipangkatkan 365 hasilnya adalah 37.8

See.. what the different...
Begitulah kita...

Andaikan setiap hari kita mengeluarkan sedikit potensi saja dari diri kita secara terus menerus dan konsisten, setelah setahun (365 hari) hasilnya akan luar biasa.

Kita akan jadi pribadi yang berbeda

Jika kita begini-begini saja setiap hari tanpa ada usaha untuk merubah ke arah yang lebih baik..maka setahun ke depan kita akan tetap menjadi seperti sekarang.

Sebaliknya jika kita malas saja atau ogah-ogahan..walau hanya sedikit setelah setahun kita tidak akan jadi apa-apa.

Dalam bahasa jepang ini adalah 1.01 housoku yang berbunyi kotsu kotsu doryoku sureba ookina chikara ni naru, dan 0.99 housoku yang berbunyi sukoshi zutsu saboreba chikara ga nakunaru.
Kalau diterjemahkan.. 

Rule 1.01 adalah jika kita berusaha walaupun sedikit namun konsisten maka lama-lama akan jadi satu kekuatan besar.

Sedangkan rule 0.99, jika kita malas sedikit saja lama-lama kekuatan kita akan hilang
37.8 kali lebih kuat dibandingkan dengan sebelumnya.

Rule atau hukum ini memang biasanya diajarkan saat olah raga kanuragan. Dimana jika setiap hari melakukan latihan dengan konsisten kita akan bisa punya kekuatan yang luar biasa..

Begitulah sesungguhnya alam mengajarkan kita. Bahkan Islam juga telah mengingatkan dengan berbagai macam ayat-ayat dan hadits yang mengajak kita untuk change ke arah yang lebih baik.

So.. pesan saya buat semua yang ada di sini.. just lakukan perbaikan diri setiap hari. Lakukan sedikit sedikit saja namun konsisten..insya Allah hasilnya akan luar biasa.

Allah SWT menyukai ibadah yang dilakukan secara konsisten dan kontinue walaupun sedikit.
Pernah dengar bagaimana satu saat Rasulullah SAW mengatakan kepada Bilal bahwa beliau sudah mendengar terompahnya (Bilal) di surga?

Dan Allah SWT meridhoiNya atas ibadah yang sederhana namun konsisten dan kontinue itu.

Ternyata Bilal sang Muadzin Rasulullah SAW mempunyai ibadah unggulan yang sangat sederhana, namun beliau tidak pernah tinggalkan, yaitu sholat sunnah wudhu.

Hal yang sama sebetulnya akan kita dapatkan pula di dunia ini jika kita mau dan bersabar dalam melakukan passion kita.

Memang sangat berat, namun kalau kita perhatikan orang-orang besar, rerata mereka punya hal-hal kecil yang selalu dilakukan namun konsisten dan kontinue.

Michael Jordan, saat masih muda sehari melempar bola ke basket sampai 10 ribu kali.
Jet lie sang aktor holliwood juga melakukan latihan-latihan berat sejak dia muda sehingga mempunyai gerakan tendangan kaki dan tangan yang cepat sehingga dia diberi julukan "Jet" karena kecepatannya itu.

Di Jepang ada juga istilah 10.000 jam.
Semua dilakukan dalam proses panjang, sedikit demi sedikit dan kontinue.Maksudnya jika kita ingin ahli dalam sebuah bidang minimal kita melakukan latihan untuk keahlian tersebut selama 10ribu jam.

So..mari kita change our mindset dan cari passion kita, lejitkan potensi diri kita walau sedikit setiap hari dalam apa saja. Insya Allah kita akan menuai hasilnya.

#pesan khusus buat grup ini agar terus konsisten dan memperbaiki diri setiap hari.

20 tahun lagi dari sekarang kalian yang akan pegang posisi-posisi penting di berbagai lini. Siapkan diri dari sekarang dalam berbagai hal.

(Sensei Edi Sukur, 2014)
Sumber : MJR SJS

Monday, June 4, 2018

Reegenering Mengais Akhir Sang Rembulan Lailatul Qadar



Re-Engenering Mengais Akhir Sang Rembulan Lailatul Qadar

Mari Kita Berusaha dan Belajar Berbaik Sangkalah Pada Allah. Ketika berdo'a,

Ingatlah Kita Sedang Meminta Pada Raja Yang Maha Pemurah & Pengampun.

Jika Kita berharap yang Terbaik, Dia Akan Memberi Kita Yang Terbaik.

Jangan Ragu2, Haqul Yakinlah & Tumpahkan Seluruh isi Hati Kita di Hadapan-Nya.

Jangan Biarkan Ke-Ragu2an & Prasangka Buruk Menjauhkan Kita Dari-Nya.

ALLAAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN, TUHIBBUL ‘AFWA FA’ FU’ANNI

(Ya Allah, Engkau Maha Pengampun & Menyukai Pengampunan, Maka Ampunilah Aku)

Yahya K | BerjuangTANPA Batas

--------------------------------------------------------------------
"SURAT PERPISAHAN"

Saudaraku,
Aku akan pulang...

Sudah di hari ke-20 aku bertamu, namun seringkali aku ditinggal sendirian.

Walau sering dikatakan istimewa namun perlakuanmu tak luar biasa.

Oleh-olehku nyaris tak kau sentuh...

Alquran hanya dibaca sekilas, kalah dengan update status smartphone dan tontonan.

Shalat tak lebih khusyu, kalah bersaing dengan ingatan akan lebaran.

Tak banyak kau minta ampunan, karena sibuk menumpuk harta demi THR dan belanjaan.

Malam dan siang mu tak banyak dipakai berbuat kebajikan, kalah dengan bisnis yang sedang panen saat Ramadhan.

Tak pula banyak kau bersedekah, karena khawatir tak cukup buat mudik dan liburan.

Saudaraku, aku seperti tamu yang tak diharapkan. Hingga, sepertinya tak kan menyesal kau kutinggalkan.

Padahal aku datang dengan kemuliaan, seharusnya tak pulang dengan kesiaan.

Percayalah, Aku pulang belum tentu kan kembali datang...
Sehingga seharusnya kau menyesal telah menelantarkan.

Masih ada "10" hari kita bersama,
Semoga kau sadar sebelum aku benar-benar pulang...

"Karena TIDAK ADA JAMINAN umurmu akan bertemu lagi, di Ramadhan yg akan datang"

Saudaramu,
RAMADHAN

--------------------------------------------------------------------
Renungan Jelang Itikaf

BILA ALLAH TIDAK MENGHENDAKI KITA LAGI

Allah akan sibukkan kita dengan urusan dunia.

Allah akan sibukkan kita dengan urusan anak-anak.

Allah akan sibukkan kita dengan urusan menjalankan perniagaan dan harta.

Allah akan sibukkan kita dengan urusan mengejar karir, pangkat dan jabatan.

Alangkah ruginya karena kesemuanya itu akan kita tinggalkan.

Sekiranya kita mampu bertanya pada orang-orang yang telah pergi terlebih dulu menemui Allah Subhana Wa Ta'alla dan jika mereka diberi peluang untuk hidup sekali lagi,
Tentu mereka akan memilih untuk memperbanyak amal ibadah.

Sudah semestinya mereka memilih tidak lagi akan bertarung mati-matian untuk merebut dunia, yang sudah jelas-jelas tidak bisa dibawa mati.

Karena tujuan kita diciptakan adalah untuk menyembah Allah, beramal dan beribadah kepada Allah.

Kita mungkin cemburu apabila melihat orang lain lebih dari kita, dari segi gaji, pangkat, harta, jabatan, rumah besar, mobil mewah.

Kenapa kita tidak pernah cemburu melihat ilmu agama orang lain lebih dari kita.

Kita tidak pernah cemburu melihat orang lain lebih banyak amalan dari kita.

Kita tidak pernah cemburu apabila melihat orang lain bangun di sepertiga malam, sholat tahajud dan bermunajat kepada Allah.

Kita tidak pernah cemburu apabila melihat orang lain setiap hari sholat subuh berjamaah di masjid dekat rumah kita.

Kita hanya cemburu apabila melihat orang lain ganti kendaraan dengan yang lebih mewah.

Kita cemburu apabila melihat orang lain bisa setiap tahun liburan.

Kita hanya cemburu apabila melihat orang lain bergelimang harta, tahta dan Wanita.

Cemburu karena dia bisa jadi gubernur, bupati ataupun Walikota.

Tetapi jarang kita cemburu apabila melihat orang lain yang bisa khatam Al'Quran sebulan dua kali.

kita jarang cemburu apabila melihat mualaf yang Faham isi AlQur'an.

Kita jarang cemburu apabila melihat orang lain berbuat untuk menegakkan Akidah Islam.

Kita jarang cemburu kepada orang yang berjihad di jalan Allah.

Kita jarang cemburu kepada orang yang mewakafkan dirinya dan semua Hartanya dijalan Allah.

Setiap kali menyambut hari ulang tahun, kita sibuk mau merayakan sebaik mungkin,
tetapi kita telah lupa dengan bertambahnya umur kita.

Maka panggilan Illahi makin bertambah dekat.

Kita patut bermuhasabah mengenai persiapan ke satu perjalanan yang jauh, yang tidak akan kembali untuk selama-lamanya. Karena Hidup di dunia menentukan kehidupan yg kekal nanti di akhirat.

Sesungguhnya

MATI itu PASTI...
ALAM KUBUR itu BENAR...
HISAB itu BENAR...
MAHSYAR ALLAH itu BENAR...
SYURGA dan NERAKA itu BENAR...

Penyesalan itu selalu terlambat...
Menunda Taubat menunggu usia Tua...
Itupun kalau masih sempat...
Sebab syarat MATI ngak harus tua, ngak harus sakit ...
Penyelesaian masalah hidup adalah melalui iman dan amal.
Iman sebesar zarrah pun, Allah muliakan dgn syurga 100x dunia"
Lalu mengapa kita tak mau menambah bekal hidup kita dengan Iman, Ibadah dan Amalan baik...???

Mudah-mudahan hidup kita selamat di dunia dan Akhirat dan selalu bermanfaat untuk Ummat dan kita termasuk orang-orang yang Allah ridhoi, untuk masuk ke syurgaNya

آمـــــين يا ربّ العالمــين


✒ Ditulis oleh Ustadz Maududi Abdullah, Lc, hafizhahullah   

Tuesday, October 3, 2017

Berpikir Itu Berdzikir



Bersyukurnya kita, ialah kita diberikan nikmat akal untuk dapat berpikir. Nikmat inilah yang membedakan kita dengan binatang, sehingga kita bisa memilah, mengambil keputusan, kemudian menentukan pilihan-pilihan dalam hidup ini.

Seringkali ketika membaca kalam-Nya, kita dingatkan dengan sebuah pertanyaan yang menggelegar, yaitu "afala ta'qilun" yang artinya, "tidakkah kamu berpikir?"

Begitulah Allah banyak mengulang pertanyaan tersebut dalam kalam-Nya yang mau tidak mau membuat kita jadi berpikir juga, apa itu berpikir?

Bagi saya aktivitas berpikir itu ialah berdzikir (mengingat Allah), sebuah aktivitas yang sangat mulia. Dengan berpikir (jernih tentunya) kita di ingatkan kembali tentang penciptaan langit dan bumi, penemuan-penemuan hebat masa kini, dan ilmu-ilmu-Nya yang masih belum terungkap di alam semesta ini.

Menuntut ilmu itu sangat baik, karena ia melibatkan aktivitas akal dan otak, memprosesnya dengan berpikir, sehingga menghasilkan output yang ujung-ujungnya mestilah mendekatkan diri kita kepada Allah Swt.

Mari, gunakan nikmat akal ini untuk merenung, berpikir, dan berdzikir atas ciptaan-Nya, seketika itu, engkau akan dapatkan valuable insight dari-Nya.

Wednesday, November 9, 2016

SUDUT PANDANG KITA




Dalam sebuah serial anime Naruto, salah satu  pemeran tokoh Akatsuki, Deidara, pernah mengatakan “hidup itu adalah seni meledakkan”, sebagian besar orang juga sering mengatakan bahwa “hidup itu adalah seni memilih”. Setiap orang tentu berhak untuk berpendapat terkait kehidupan ini. Semua terserah kepada siapa yang mengatakan, apa yang dikatakan, dan kepada siapa hal tersebut ditujukkan. Asalkan selama tetap dalam koridor Hak Asasi Manusia, semua itu sah-sah saja.

Dewasa ini, hidup kita selalu diruwetkan dengan berbagai pilihan-pilihan. Baik itu pilihan-pilihan strategis, taktis, umum, sampai yang tidak penting sama sekali. Coba bayangkan, baru saja kita bangun dari tidur kita sudah dihadapkan dengan (minimal) dua pilihan, membuka handphone atau membaca doa (?). Jika kita memilih membuka handphone, akan muncul beragam pilihan lagi, akankah kita membuka Whatsapp, IG, Facebook, Message, dan lain-lainnya. Semisal kita membuka WhatsApp, akan banyak sekali menu chat yang tersedia untuk dibaca. Puluhan chat berstatus hijau bertanda belum terbaca. Dan tentu, aktivitas selanjutnya kita harus memilih, chat mana yang harus kita baca terlebih dahulu?. Dan darisitu akhirnya kita harus memilih, dan saya yakin setiap hal yang kita jatuhkan pilihan atasnya terdapat konsekuensi atasnya.

Kembali dalam pillihan, hidup kita berkelana dalam sebuah pilihan-pilihan. Dalam konteks general, sebenarnya kita hanya di hadapkan oleh dua pilihan, pilihan baik atau pilihan buruk. Masing-masing penjabaran dari kedua itu banyak dan panjang sekali, tergantung sikap kita untuk menilai dan memilah mana yang kemudian masuk ke dalam pilihan baik atau pilihan buruk. It’s up to you!

Pilihan, selain terkategorikan dalam perihal aktivitas, kata memilih juga termasuk ke dalam kata kerja. Ada satu hal yang ingin saya kaitkan dengan perihal pilihan (atau memilih) ini, yaitu tentang pandangan, atau lebih tepatnya, sudut pandang. Dalam sebuah acara pacuan kuda, setiap kuda-kuda pelari yang siap dilombakan dalam pacuan tersebut dipakaikan kacamata. Konon kabarnya, ketika seekor kuda dipakaikan kacamata tersebut, fokus berlarinya akan linier, titik fokus ke depannya begitu runcing, dan tidak akan tergubris oleh pemandangan kanan dan kirinya.

Ada sebuah kisah menarik yang saya kutip dalam salah satu karya ustad Salim. A Fillah. Kisah ini dapat menjadi sebuah tes ramalan tentang bagaimana kita memandang sebuah keadaan atau kondisi, baik diri sendiri, maupun kondisi orang lain.

Suatu sore mungkin kita menyaksikan seorang lelaki, ikut antri di warung pecel lele di daerah Monjali. Mendung bergantung sore itu, dan warna hitam yang menyeruak di barat mulai bergerak mendekat. Dia, berkaos putih yang leherannya mulai geripis, di kepalanya ada pecis putih kecil, dan celananya beberapa senti di atas mata kaki. Sandal jepit swallow yang talinya hampir putus nyangkut di antara jempol dan jari kakinya. Seperti yang lain ia juga memesan, “Pecel Lele, Mas!”

“Berapa?”, tanya Mas penjua yang asyik menguleg sambal terasi sambil sesekali meraih sothil besar untuk membalik gorengan lele di wajan raksasa. Gemuruh bunyi kompor mengharuskan orang bicara sedkit lebih keras.

“Satu. Dibungkus...” Perlahan tangannya merogoh saku celana, lalu duduk sembari menghitung uangnya. Malu-malu, tangannya dijorokkan sedikit ke bawah meja. Uang pecahan ratusan yang sudah disatukan dengan selotip bening per sepuluh keping, pas jumlahnya sesuai harga.

“Nggak makan sini aja Mas? Takut keburu hujan ya?”

“Hi hi, buat isteri..”

“Oo..”

Selesai pesanannya di bungkus, bersamaan dengan bunyi keririk yang mulai menggambar titik-titik basah di tenda terpal milik Mas Pecel Lele. Agak berlari ia keluar, tetapi melebatnya sang hujan jauh lebih cepat dari tapak-tapak kecilnya. Khawatir pecel lele untuk isteri tercinta yang hanya dibungkus kertas akan berkuah, ia selipkan masuk ke perutnya. Bungkusan itu ia rengkuh erat dengan tangan kanan, tersembunyi di balik kaos putih yang mulai transparan disapu air. Tangan kirinya ke atas, mencoba melindungi kepalanya dari terpaan ganas hujan yang tercurah memukul-mukul. Saat itu ia sadar, ia ambil pecisnya. Ia pakai juga untuk melapisi bungkusan pecel lele. Huff, lumayan aman sekarang. Tetapi 3 kilometer bukanlah jarak yang dekat untuk berjalan ditengah hujan, bukan?

Bagaimana perasaan kita ketika memandang peristiwa lelaki tersebut? Kasihan, iba, miris, sedih.

“Itukan Anda!” tegas ustad Salim menjawab. “Coba tanyakan kepada lelaki itu, kalau anda bertemu. Oh sungguh berbeda. Betapa berbunga hatinya. Dadanya dipenuhi heroisme sebagai suami baru yang penuh perjuangan untuk membelikan penyambung hayat isteri tercinta” lanjutnya.

Sidang pembaca yang terhormat, dalam hidup ini kita memang dipersilahkan untuk memilih berbagai sudut pandang, tetapi karena kita dipersilahkan bebas untuk memilih, seharusnya kita akan menjatuhkan pilihan pada sudut pandang yang jernih. Kita dapat bayangkan, bagi orang awam, kondisi laki-laki diatas adalah kondisi yang mengenaskan, tetapi kenyataan yang dialami oleh lekaki tersebut malah berkebalikannya! Heroisme menghujam dalam dadanya.

Jika ada seseorang yang merasa iba kepada saudaranya yang sedang memangkul amanah yang besar, dan terus mengatakan “kasihan ya”, boleh jadi apa yang dirasakan oleh orang yang memikul amanah itu malah sebaliknya. Paradigma kita dalam memiih sudut pandang agaknya perlu untuk di jernihkan kembali.

Beberapa hari yang lalu, ratusan ribu bahkan mencapai jutaan umat Islam melakukan aksi damai di Jakarta. Ada yang jauh-jauh datang dari pelosok daerah, belasan jam berjalanan bahkan ada yang 24 jam perjalanan. Mungkin bagi sebagian orang, melakukan hal itu termasuk hal bodoh, tetapi coba anda tanyakan kepada para peserta aksi tersebut, saya yakin jawaban mereka akan sama, mereka senang telah menjadi bagian dari para pembela Al-Quran!

Dalam hidup, mari pilahlah dengan hati-hati pillihan sudut pandang kita, boleh jadi selama ini pandangan kita terkaburkan oleh sempitnya wawasan kita, atau terbiaskan oleh ketidakpekaan nurani kita. Cobalah untuk melepas kaca mata kuda yang mungkin sempat menempel di wajah kita, mulailah untuk mengambil angle terbaik ketika kita memandang sesuatu, setelahnya kita akan melihat sisi lain yang jauh lebih mempesona dari pemahaman yang selama ini kita fahami.