Friday, April 27, 2018

Hidup dari Mimpi ke Mimpi


Hidup dari Mimpi ke Mimpi
An Inspiring story from Edi Sukur Sensei





Saya masih ingat saat selepas sakit tipes 3 minggu,  saya diajak bapak naik metro mini, turun di dekat bandara Halim Perdana Kusuma. Bukan untuk naik pesawat, tapi sekedar melihat  pesawat terbang. Saat itu naik pesawat adalah barang mewah tidak seperti sekarang yang siapapun bisa naik karena sudah ada LCC. Saya hanya bisa berangan-angan dan berazzam, suatu saat saya harus bisa naik pesawat. Dan itu terjadi 9 tahun kemudian, tidak tanggung-tanggung langsung ke Jepang. Sejak saat itu naik pesawat bukan hal yang aneh lagi. Bahkan pernah dalam satu tahun naik pesawat Garuda sampai  78 kali seperti yang tercatat dalam GFF, belum pesawat yang lain. Itu artinya rerata 4 hari sekali naik pesawat.

Di kali lain, bapak mengajak saya ke berbagai mesjid di Jakarta. Mulai dari mesjid Sunda Kelapa, Istiqlal, Jendral Sudirman, P. Diponegoro dll. Seperti biasa bapak tidak banyak bicara, jadi sepanjang ke mesjid kami hanya saling diam. Hanya saya masih ingat bagaimana bapak mengatakan, "bapak hanya bisa mengajak kamu ke mesjid2 ini. Mudah2an kamu bisa ke Mekkah sendiri satu saat nanti". Saya yang saat itu masih SD, hanya diam saja, walaupun selalu terngiang2 bagaimana caranya agar bisa ke Mekkah. Alhamdulillah beberapa tahun kemudian saya bisa ke sana bersama ibu saya. Tidak sempat mengajak bapak, karena bapak sudah terlebih dahulu meninggalkan dunia ini. Namun perjalanan itu mengingatkan kembali memori masa kecil itu.

Saat di SMA saya termasuk yang "bangor" di sekolah. Bangor yang menurut saya masih ditolerir (membela diri wkwkwk). Egois, belagu, songong ..mungkin yang dipredikatkan ke orang2. Tidak punya teman dekat, adalah sesuatu yang biasa. Tetapi anehnya saya selalu terpilih untuk ikut lomba, jambore  atau sebagai pimpinan organisasi. Dan seperti biasa dengan keegoisan da kesongonganya, saya seolah mengatakan ke teman2 di organisasi, "kalo percaya sama saya, ikuti cara saya. Kita akan juara macem2 lomba". Dan memang alhamdulillah kami bisa juara berbagai macam lomba, walaupun efeknya saya makin tidak punya teman, karena organisasi benar2 mengikuti apa kata saya tanpa mau dengar apa kata yang lain. Mungkin bukan contoh yang baik, karena ketika saya sudah menetapkan sebuah rencana dan rencana itu sudah mengendap di dalam otak, apapun akan saya lakukan sampai cita2 atau rencana itu terjadi. Makanya kadang banyak yang tidak tahan dengan cara kerja seperti ini.

Itu terjadi pula saat di kelas III saat saya, dengan keegoisan saya, menetapkan saya keluar dari organisasi setelah melepaskan masa jabatan. Saat itu fokus saya cuma satu, bagaimana saya bisa lulus dan diterima kuliah dengan beasiswa. Ini bukan perkara mudah karena biasanya ada masa transfer knowledge dan tidak melepas begitu saja setelah kepemgurusan berakhir. Namun saya tidak peduli, karena saiah sedang mengejar cita-cita yang lain, gimana caranya kuliah dengan gratis.

Bapak yang sudah pensiun saat saya masih SMP, membuat saya mengambil keputusan drastis seperti itu. Tidak mungkin saya bisa kuliah kalo tidak dapat beasiswa. Kakak masih kuliah di Univ Swasta, dan saya tahu bagaimana sulitnya bapak menyediakan biaya kuliah kakak, karena saya sempat ikut wawancara bapak dengam pihak kampus tentang biaya kuliah kakak. Saya tidak ingin hal itu terulang lagi, sehingga saya mencari informasi ttg beasiswa darimana saja. Berbagai macam kampus ber beasiswa saya ikuti, mulai dari PATIGAT, STAN, Siemens bahkan sampai AKAB pun saya anggap sebagai kampus berbeasiswa saking inginnya dapat beasiswa. Program ke LN juga diikuti, mulai monbusho, staid juga beasiswa bbrp kampus di amrik. Satu persatu test diikuti, satu persatu diterima, satu persatu dilepas sampai akhirnya memilih untuk ke Jepang walaupun sudah diterima pula di UI.

Bukan hal mudah selama satu tahun terakhir di kelas III itu, karena di saat teman2 yang lain ikut bimbel, saiah hanya belajar mengandalkan kumpulan soal2 perintis, sipenmaru dan UMPTN tahun2 sebelumnya. Itupun saya lakukan saat pulang sekolah sampai jam 2 pagi sambil mendengarkan lagi2 love song jadul. Sesekali dengan kebandelan dan kenekatan saya ikut secara liar teman yang ikut bimbel. Semoga Allah SWT memaafkan karena secara tidak langsung saya mengambil ilmu dengan mencuri (tanpa bayar) ke bimbel itu. Itu hanya untuk refreshing dari kejenuhan belajar secara otodidak yang kadang membosankan.

Bukan sekali dua kali saya tertidur di kelas karena saiah hanya tidur 2-3 jam, karena sebelum berangkat sekolah saya harus membantu membereskan rumah. Namun nampaknya guru2 tidak memarahi saya karena tugas sekolah dan soal2 pelajaran sudah saya kerjakan terlebih dahulu sebelum bab itu diajarkan di kelas. Bahkan tak jarang saya keliling kelas membantu guru menjelaskan ke teman2.

Menjelaskan soal2 rumit, yang sudah saya kerjakan satu atau dua malam sebelumnya. Itu semua dilakukan demi bisa mendapatkan beasiswa. Oh ya, mengikuti berbagai lomba matematika, fisika dan kimia adalah salah satu cara saya juga mengenali jenis2 soal. Makanya mengikutu lomba2 itu di MIPA UI, AIS (sekaramg STIS) adalah hal yang menyenangkan walaupun tak pernah juara.

Beramgkat ke Jepang. Mungkin oramg2 mengatakan menyenangkan. Namun buat saya itu adalah beban berat luar biasa karena ibu saya antara rela dan tidak rela saya melanjutkan sekolah di sana. Saya memamg berharap bisa dapat beasiswa, tapi ibu tidak percaya klo saya justru mendapatkan beasiswa yang jaraknya sedemikian jauh.

Saat saya menginformasikan saya diterima beasiswa ke Jepang, ibu hampir pingsan mendengarnya. Sebetulnya saiah biaa mengambil beasiswa di dalam negeri seperti STAN, tetapi bapak tidak setuju jika saya mengambil bidang non eksak. Bapak memamg memaksa saya agar bisa mengikuti jejak Habibie di bidang eksak. Makanya bapak memaksa saya masuk ke UI dan melepas beasiswa lain karena di UI saya diterima di FT. Dan pada saat saya diterima beasiswa ke Jepang yang paling bahagia dalah bapak, karena sesuai dengan cita2nya.. bidang eksak.

Sampai di sini saya sempat dilema.

Apakah saya melanjutkan proses keberangkatan atau melanjutkan saja di UI dengan risiko mencari.biaya se diri. Dan bapak yang sedang excited memutuskan saya harus ambil yg ke Jepang walaupun ibu berkeras saya di Jakarta saja apapun yang terjadi.

Pergolakan itu masih terus berlanjut saat saya mengikuti persiapan ke Jepang. Persiapan ini bukan dibilang santai, karena sebelum berangkat akan ada test lagi yang menentukan apakah benar2 jadi berangkat atau tidak.

Persiapan itu mencakuo pelajaran Matematika, fisika dan kimia dalam bahasa inggria dan juga pelajaran bahasa Jepang. Yang paking sulit afalah bahasa Jeoang karena harus lul7s level 3, dan itu aetara anak SMP Jepun. Ini bukan perkara mudah karena waktu yang tersedia hanya 6 bulan. Makanya masa 6 bulan itu adalah masa fully stressed. Bayangkan, setiap hari dijejali 14 kanji baru, belajar percakapan, grammar, vocab, listening dan narasi. Setiap senin siang ada test bahasa jeoang dan MIPA. Begitu seterusnya setiap hari selama 6 bulan.

Masa2 stress ini bertambah karena lokasi tempat belajar ini cukup jauh. Saya tinggal di linggir jakarta bagian timur, lokasi belajar di jakarta bagian barat. Perlu waktu 3 jam lebih PP setiap hari. Sempat saya berkeinginan untuk bunuh diri dengan melompat dari bis di jalan tol, karena saya sudah lelah fisik dan mental. Kebetulan saya selalu berdiri di pintu bis bagian belakang dengan hanya kaki satu saja karema padatnya bis. Jadi satu kaki menggantung.

Lelah fisik karena jarak dan angkutan yang tidak ramah, lelah mental karena tidak ada tempat yang menyenangkan buat saya. Di tempat kursus stress dengan beban pelajaran, di rumah stress melihat bapak dan ibu berdebat (baca: berantem) ttg kepergian saya ke Jepang.

Namun semua itu bisa dilewati, karena sejak awal kelas 3 itu cita2 saya cuman 1, gimana caranya saya bisa merubah ekonomi keluarga. Punya tempat tinggal yang lebih layak dibandingkan dengan kondisi saat itu yang kadang tidur di atas ponco tentara dengan titik2 bocoran gentemg saat hujan. Belum lagi suara2 tikus yang lari di sela2 gedek dan kertas semen yang menjadi dinding rumah.

Sesampai di Jepun juga bukan perkara mudah. Saat sekolah bahas Jepang (lagi) di tahun pertama di Tokyo, beberapa teman saya berguguran. Ada satu orang yang stress karena tdk kuat mental, padahal dia termasuk yang peri gkat atas.
Satu orang lagi tetiba menghilang di kampus dan setelah di cari tyt yang bersangkutan audah berada di surabaya dan tidak akan kembali lagi ke Jepun.

Satu orang lagi stress tidak bisa lanjut ke kampus sehingga harus pulang ke Ina. Sempat disekolahkan lagi di UI, namun akhirnya yang bersangkutan meninggal tertabrak kereta di dekat UI. Ini katanya karena dia masih terbawa2 trauma saat di Jepun.

FYI, Jepun dulu beda dg Jepun skrg. Semua masih keras, blm semua orang Jepang welcome dg orang asing. Ini yng menyebabkan ada bberapa orang asing yangvtidak tahan tinggal di sana. Termasuk kakak kelas saya yang sudah 2 tahun lebih dahulu di Jepun. Saat di semester 6 tetiba dia stress, mendadak gila. Sempat masuk RSJ selama 3 bulan namun tidak kunjung sembuh.

Akhirnya kami panggil ortunya dan akhirnya ibunya pun datamg. Awalnya kami mengira dengam kehadiran ibu, stres sang anak akan berkurang, namun yangvterjadi justru sang ibu jadi ikut stress karena dia yidak bisa apa2, tidak mengerti apa yang dubicarakan dan tidak adapula teman diskusi. Akhirnya jadilah kami mengurusi 2 anak dan ibu yang stress ini.

Tak ada jalan lain kecuali memulangkan keduanya. Alhamdulillah 6 bulan dipulangkan, sang anak dimasukkan ke oesabtren di sukabumi dan tahun berikutnya sang anak datang lagi untuk melanjutkan studinya. Namun seperti kata dojter jiwanya, sang anak ini tidak akan bisa normal. Ketika ada stress pasti oenyakitnya akan kambuh. Dan itu terjadi lagi di tahun keempat.

Lepas dari kakak kelas yang akhirnya di luluskan pihak kampus karena me.ikirkan masa depan sang anak, datang lagi junior yang tyt lunya bibit stress. Dan itu terjadi tidak terlalu lama sejak kedatangan. Diapun akhirnya pulang karena tdk tahan dengan suasana di sana.

Saya sendiri bagaimana?

... to be continued..

Apakah saya mengalami stress pula di Jepang? Bohong kalau saya mengatakan tidak. Justru hari-hari di sana adalah full stress. karena yagn ada adalah persaingan. Bagaimana tidak? Masuk kelas sduah harus bersaing dengan orang-orang China, Taiwan dan Korea yang gila-gila klo sedang belajar. Saya yang terbiasa belajar sampai jam 2 pagi, tidak sanggup menyaingin mereka yang bisa belajar sampai jam 3 atau 4 pagi.

Itu sudah terjadi sejak di sekolah bahasa. Ditambah lagi kegigihan mereka dalam menghadapi hidup, rasanya saya belum apa-apa. Saya yang datang dengan beasiswa bisa dikatakan lebih makmur dibandingkan mereka dimana mereka harus bekerja paruh waktu setelah pulang kursus bahasa untuk bisa mendapatkan biaya hidup di sana yang lumayan tinggi.

Kondisi ini yang membuat tekanan jadi makin bertambah. Bagaimana mungkin saya yang mendapatkan beasiswa bisa mendapatkan peringkat yang lebih rendah dari mereka? Ini yang mebuat saya harus berjuang lebih.

Selepas dari kursus setahun di Tokyo, saya mulai masuk kampus. Di sini lebih gila lagi, karena saya harus berhadapan dengan orang asing yaitu 79 orang Jepang di satu jurusan.

Sebetulnya saat keluar dari kursus bahasa selama satu tahun di Jepun, membuat PD kemampuan bahasa Jepang, karena suda lebih lancar saat berkomunikasi dengan sensei2 yagn oerang Jepang. tetapi ternyata kemampuan bahasa Jepang saya masih level anak SMP pula.

Penyebabnya karena saat kuliah, walaupuan saya sudah duduk di kursi paling depan, saya masih tetap tidak bisa membaca tulisan prof yang menerangkan kuliah. Ini karena sang prof tidak menuliskan kanji dengan cara standard seperti di sekolah bahasa jepang. Cara menulis mereka sangat kotor, dengan menghilangkan urutan penulisan kanji yang benar.

Belum lagi omongan prof yagn tidak bisa ditangkap karena saking cepatnya. Selain itu juga ada dialek2 khusus. Ini membuat dobel2 panik. Di saat yang sama, sungguh sulit untuk bisa masuk or mencari teman orang Jepun. Mereka punya gank sendiri, sehingga jika kita tidak punya sesuatu yang bisa dijual, mereka tidak akan mendekati kita.

Di situ saya merasa Allah SWT memang menyiapkan saya jauh-jauh hari untuk bisa survive di Jepun. Kemampuan logik komputer dan proggraming yagn saya pelajari saat SMA, benar-benar manjur. Dengan modal logika matematika saya yang sempat belajar program basic dapat dengan mudah menyelesaikan program fortran yang menjadi mata pelajaran wajib di semester pertama. Program ini belum pernah saya pelajari, namun karena logika dalam dunia programing sama, maka saya hanya tinggal merubah bahasa pemrogramannya saja.

Akibarnya di pelajaran ini saya menonjol, dan tidak tanggung-tanggung, sang profesor meminta saya untuk menjadi asistennya dia saat mengisi kuliah Fortran itu. Padahal kalau mereka tahu, sehari sebelumnya saya belajar sampai malam apa yagn akan diberikan besok. Tak jarang saya harus bergadang.

Gegara pelajaran ini pula, saya dianggap hebat atau keren di bidang yang lainnya, sehingga sedikit-demi sedikit orang Jepang itu datang mendekat. Saat pelajaran kimia, mereka datang. Pelajaran Fisika mereka datang. Matemarika pun sama. Jadilah saya masuk ke gank mereka. Nah di sini saya mendapat bantuan, untuk pelajaran2 yang lain yang diluar pelajaran eksak seperti psikologi, sejarah dll dimana pelajran itu mengandalkan pendengaran dan bacaraan di saat saya belum lancar membaca kanji di papan tulis dan juga belum cepat pula membaca buku dalam bahasa Jepang.

Saya cukup memfotokopi apa  yang mereka tulis dan terkadang mereka memberitahukan soal-soal yang keluar tahun lalu yang mereka dapatkan dari kakak kelasnya.. .. .. you are lucky man!!!

Yaa.. pelajran berat satu persatu bisa dilewati dengan keringat dan air mata.. (lebay..) sampai akhirnya saya bisa selesai S1 dengan peringkat yang tidak jelek-jelek amat. IPK hanya 3.87, yang membuat saya bisa masuk ke program master tanpa test.

S2 juga lewat.. walaupun berat, namun perjuangan yang saya lakukan selama S2 tidak seberat pada awal S1. Saat ini yang paling berat adalah masalah ekonomi, karena bisa dikatakan tidak ada beasiswa yang memadai, sekedar untuk bisa bertahan hidup.

Selepas S2 saya seolah lepas dari beban, karena bapak saya memang berpesan, "Kamu tidak boleh pulang sebelum selesai minimal S2!!!”

Saiah yang memang punya cita2 awal ingin membantu ortu hanya bisa mengikuti apa kata bapak.

Saya masuk S3 juga bisa dikatakan tanpa test, walaupun mengembil jurusan yang 180 derajat dari saat S2.

Itu semua berawal dari sebuah cita-cita awal kelas 3 SMA, bagaimana caranya bisa merubah kondisi ekonomi keluarga.

Oh ya, IPK di S2 dan S3, alhamdulillah 4.0. Ini juga perjuangan luar biasa.. karena semua itu dilakukan tanpa beasiswa.

Hidup di lab sampai jam 5 pagi. Pulang ke rumah sampai jam 7, lalu berangkat part time sampai jam 10 or 11 dan dilanjut ke lab lagi sampai jam 5 pagi.

Selepas S3, sempat bekerja di perusahaan minyak exxonmobil, 2 tahun. Di situ saya mulai memahami bagaimana orang Jepang bekerja. Ternyata mereka tidak rajin-rajin bener. Justru orang Indonesia lebih rajin dan efektif dalam bekerja.

Bagaimana tidak, mereka memang bekerja sampai malam, tetapi pagi hari mereka mengantuk, jadi bisa dikatakan tidak bekerja maksimal. Mata melihat komputer tapi kenyataanya mereka tidur. Kondisi itu yang membuat saya jadi orang bandel lagi. Di saat saya dipaksa untuk lembur, saya malah tidak mau. BUkan apa2, karena pekerjaan saya hari itu sudah selesai, buat apa saya lembur walaupun kalau lembur saya akan dapat uang lembur.
2 tahun itulah saya mengalami degradasi cita-cita. Saya tidak bisa menikmati meneliti. Uang bisa didapat, namun kebebasan berpikir dan keleluasaan mengatur diri menjadi lebih sulit.

Bekerja di perusahaan itu merupakan barang mewah, karena rumah dibayari full berikut ongkos listrik dan air, ongkos dari rumah seberapapun jauhnya akan ditanggung perusahaan, jadi bisa dikatakan gaji yang diterima hanya dipakai untuk makan saja.

Namun di situ pula muncul kejenuhan, karena saya kehilangan cita-cita. Tidak ada lagi hal yang mebuat saya bisa terus hidup di Jepun. Tidak ada sesuatu yang membuat saya bersemangat untuk bisa terus di Jepun, sampai akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke Ina dengan satu harapan baru.. mencari tantangan baru…

Kalau hanya untuk hidup, rasanya seua seudah terpenuhi, dan sebagai orang yang terbiasa hidup dari satu cita-cita ke cita-cita yang lain, pilihan pulang adalah satu-satunya pilihan.

Kali ini saya punya mimpi yang lebih besar lagi, daripada hanya sekedar menghidupi saya, keluarga dan keluarga besar saya, yaitu bagaimana bisa mengurangi pengangguran di Ina.

Itu yang pertama kali saya ucapkan saat saya masuk ke sebuah perusahaan Jepang di Tangerang untuk sebuah jabatan strategis di bawah Presiden Direktur untuk mengurusi divisi RnD, Produksi, Logistik, PPIC, Sales n Marketing dan Purchasing.

Sebuah tantangan yang luar biasa dari sebuah kehidupan yang sebelumnya hanya berhadapan dengan benda mati, kali ini harus bertemu dengan banyak orang.

Saat itu saya mengatakan ke staf2 saya, "Tahun ini jumlah karyawan kita ada 300an, saya berharap tahun depan jumlah karyawan kita bertambah”

Sekali lagi mungkin orang akan mengira, wuih.. enak benar kerjanya. Posisi tinggi, langsung di bawah Presdir. Padahal sejak 3 bulan pertama saya hampir stress menghadapi orang2 yang tidak logis.

Saat di Jepang, hampir semua orang yang saya temui adalah logis2. Jika ditanya A, akan dijawab dengan jawaban pertanyaan A. Namun di Ina, saya bertanya soal A, jawabannya adalah untuk pertanyaan B. Saya tanya soal B, jawabannya untuk soal C. Tidak pernah nyambung. Makaya 3 pekan pertama yang terjadi adalah spidol white board saya terbang ke papan tulis saking kesalnya dengan para karyawan yang tidak bisa diajak berfikir logis.

Ini bukan level staf bawah yang level pendidikannya SMK atau SMA, tetapi sebagian sudah manager. Makanya saya pikir, bagaimana mugkin perusahaan ini bisa untung jika manajemennya adalah orang-rang seperti ini?

Di sini akhirnya saya merasa lelah. 3 tahun tidak ada perubahan. Apalagi di tahun terakhir saya sudah mulai mengurusi masalah finance dan accounting. Di saat itulah saya mengetahui bahwa saya "dibohongi",karena perusahaan itu memang disetting untuk tidak untung.

selama perjalanan hampir 30 th, perusahaan yang beromset ratusan milyar itu hanya disetting untung sekian M saja.

Saya sempat bertanya ke Finance Director yang orang Jepun, dan dia dengan sambil meminta maaf mengatakan, "saya sekarang bicara bukan sebagai sesama karyawan, tetapi sebagai sesama teman, karena kamu nanti akan jadi penerus perusahaan ini (saat wawancara dengan Presdir, memang saya diproyeksikan untuk jadi Presdir di perusahaan ini). Kalau perusahaan in untung besar maka punya beberapa risiko yang harus ditanggung, pertama perusahaan harus bayar pajak lebih besar, tahun depan fixed cost akan naik karena salary naik (jika untung besar maka prosentase kenaikan akan makin tinggi)"

Ini yang akhirnya membuat saya lebih patah hati. Buat apa saya sungguh2 jika akhirnya yang untung adalah perusahaan saja, sedangkan buat karyawan itu seadanya saja?

Dan di situlah akhirnya keputusan keluar dari perusahaan bersama lebh dari 100 orang yang mengikuti dengan program Pensiun Dini. Di sini saya gagal menggapai dream untuk menambah karyawan di perusahaan itu. Pilihan yang sulit tapi apa mau dikata jika kita sudah pindah ke lain hati.

Dari situlah dimulai perjuangan baru bernama Edwar Technology, sebuah nama gabungan dari Edi dan Warsito, yang punya kesamaan visi dan cita-cita.. "gimana caranya mengurangi pengangguran di Ina”.

Nama itu muncul setelah berbagai macam pertimbangan, pernah diusulakn nama E&W, ini singkatan nya sama, selain itu punya arti Energy and Wave.

Namun kemudian nama Edwar Technology diambil dengan alasan pragmatis.. orang Indonesia tidak suka rasa lokal, inginnya rasa luar negeri!. Contoh saya, kita tahu IPB mengembangkan sebuah varietas pepaya, namun pepaya itu tidak laku di pasaran. Akhirnya diberikanlah nama Pepaya California, dan you know what? Pepaya itu sekarang jadi laku kemana2

Begitulah .. perjalanan hidup dari satu cita-cita ke cita-cita yagn lain.. dan sekarang pun masih meniti cita-cita lainya…

Hidup memang keras, tetapi semua akan jadi ringan ketika kita mempunyai cita-cita yang membuat adrenalin dan dopamin selalu mengalir.

Life is dream. We wake up when we die.

Sekian dulu.... wkakaka.. maaf klo rada2 eror

Buat semuanya.. I think it is better to read "the magic of thinking big" David Schwarz..