Tuesday, May 19, 2015

Role Model Manusia Abad 21



“Sungguh bagi kalian pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik, bagi orang yang mengharapkan (ridha) Allah dan hari akhirat, serta banyak berzikir.” 
-QS Al Ahzab: 21-
"Seyogyanya.." tutur Dr. Yusuf Qardhawi dalam suatu artikel, "perang era sekarang adalah perang pemikiran, siapa yang mampu memenangkan pemikiran maka ia mampu mengusai dunia". Genap sudah 14 abad yang silam sewaktu Rasulullah saw hidup dimuka bumi, menebar cinta, memperbaiki akhlaq, dan menuntun manusia ke jalan yang terang benderang. Lunturnya dark age dari belahan barat sana menjadi bukti konkrit atas keberhasilan kepemimpinan Rasulullah dalam menjadi prototype terbaik dimuka bumi ini.
Kita kembali ke masa depan, menembus lorong waktu, dan berdiri mantap pada sebuah zaman modern, abad 21! Sebuah zaman dimana fitnah merajalela dimana-mana, sesembahan kepada thogut sangat halus terjadi, sebuah zaman dimana krisis kepemimpinan semakin meruji.
Sementara dalam suatu bangunan intelektualitas, beribu orang berduyun-duyun setiap tahunnya, niatnya sih ingin menjadi aktor dari perbaikan negeri, yang pada akhirnya jatuh nelangsa pada kegemerlapan dunia, tenggelam pada kefanaan jabatan, dan menjadi serendah-rendahnya insan dihadapan harta.
Dunia pun sudah kacau, tidak henti-hentinya meracau, meminta permintaan yang sederhana, agar tubuhnya di tempati oleh orang-orang yang berintelektualitas seperti nabi, intelektual profetik tepatnya. Karena jaksa yang bijaksana akan sulit ditemukan, hakim yang adil akan sulit dijumpai, pedagang yang jujur akan seperti jarum dalam tumpukkam jerami, dan perekayasa (engineer) akan enggan merekayasa hal-hal yang baik.
Tetapi tidak disudut kampus itu, fakultas Teknik namanya, yang isinya adalah orang-orang yang terhimpun dalam sebuah lembaga dakwah maupun yang tidak, mereka berencana lain, berpikir lain, berkorban untuk hal lain, dan hidup untuk yang lain. Ketika banyak orang berbelok ke kiri, maka mereka memilih kanan sebagai jalannya. Ketika sebagian besar orang memilih undur diri dari prestasi, maka mereka berderap mantap meraih prestasi dengan niat ilahi.
Masih teringat materi halaqoh kala subuh itu, seorang Al Muhandis (red: engineer), Yahya Ayyas menjadi seorang engineer yang paling dicari dan berbahaya. Semua musuh-musuh Islam kalang kabut mencarinya, tidak mudah meneukan jejaknya, ketika didatangi rumahnya, ia sudah pindah ke tempat lain, dan begitu seterusnya, hingga-takdir Allah untuk orang-orang besar- sampai meninggalnya pun tidak ditemukan. Beliau di bunuh melalui bom dari telepon kabel!
Marian Salzman dalam bukunya, The Future of Man mengatakan, “Dunia jauh lebih berharap kepada pria-pria yang menghabiskan waktunya untuk membaca buku, mengikuti pelatihan, mencermati perkembangan mutakhir, dan menganalisis berbagai peristiwa dari pada mereka sibuk ke salon, menata rambut, mempermak wajah, dan memadupandankan aksesorisnya” jelas sudah, role model manusia abad 21 adalah mereka yang selalu melakukan perbaikan dalam dirinya dan dekat dengan Tuhannya!

Terakhir, menjadi seorang muslim, terlebih seorang perekayasa (engineer) adalah hal mutlak untuk dekat dengan Tuhannya. Allah yang memiliki sifat Maha Merajai perlu kita ikuti dan terapkan dalam diri hambaNya. Betapa banyak seorang engineer yang malah habis mengeksploitasi ciptaan Allah, lalai akan kuasaNya. Mulai saat ini, mari berubah arah, satukan tujuan, hibahkan diri, dan lakukan perbaikan. Karena, seorang perekayasa yang baik, maka ia akan mencoba menjadi aktor perekayasa kebaikan-kebaikan disekitarnya

No comments:

Post a Comment